Waisak: Menyucikan Diri Tanpa Asap Dupa
Jum'at, 01 Juni 2007 | 18:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Mengenakan kaos dan jeans, William (16 tahun), tampak
khusyuk menuangkan segayung air ke atas patung Budha. Matanya terpejam, bibirnya komat-kamit.
Sesaat kemudian, tangannya bergerak lagi. Segayung air dari kolam kecil di depannya direngkuhnyadan ia tuangkan ke wadah plastik. Puluhan jemaah lainnya di Vihara Mahavira Pusat, Jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, melakukan hal serupa.
"Air ini buat mandi, bisa untuk mensucikan diri," kata William sambil mengacungkan air dalam bungkusan plastik.
Perayaan Waisak di Vihara Mahavira Pusat memang cukup unik. Di Vihara ini, asap dupa yang biasanya menjadi ciri khas Vihara, justru tidak tampak. Hanya ada barisan lilin kecil di depan Vihara.
"Kami tidak menggunakan banyak dupa, sebab yang diutamakan adalah kesadaran," kata Biksu Prajnavira, pimpinan Vihara.
Di aula vihara, puluhan alas duduk untuk bermeditasi tertata rapi, menghadap beberapa patung Budha berukuran besar. Di atas alas itulah ribuan umat Budha bermeditasi menyambut Waisak yang jatuh tepat pukul 08.03 pagi tadi.
Setelah itu, dilakukan pembacaan Sutra Mantra dan pemberkatan. Rangkaian doa juga ditujukan untuk keselamatan bangsa. "Ritual lainnya adalah pemandian
Budha dan pemujaan Relik," kata Prajnavira. Relik adalah tulang Budha yang telah dibakar. Menyembahnya dipercaya bisa melahirkan kesadaran dan kekuatan.
Meski ritual berlangsung khidmat, jemaah yang datang umumnya mengenakan busana santai. Banyak yang hanya memakai kaos dan jeans.
Peringatan waisak terkait dengan 3 peristiwa yang dialami Budha, yaitu kelahiran Sidharta Gautama, pengangkatan menjadi Budha, dan wafatnya. Dwi Riyanto Agustiar





