Tak Mampu Bayar Rumah Sakit, Pasien Tewas
Minggu, 08 Juli 2007 | 21:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Rena, 30 tahun, harus mengakhiri hidupnya diusia 30 lantaran tidak mampu membayar biaya rawat inap di rumah sakit. Peristiwa bermula pada Ahad dini hari (8/7), ketika Rena mengajak pacarnya, Willy, ke sebuah diskotik di bilangan Sawah Besar, Jakarta Barat.
Sampai di sana, Rena menenggak sebutir ekstasi. Begitu pula halnya Willy. Sekitar pukul 04.00 WIB, tubuh Rena mendadak kejang.
Melihat itu, Willy membawa Rena ke rumah sakit Manuela. Di ruang Gawat Darurat, pihak rumah sakit sempat memberikan pertolongan pertama kepada Rena. “Rena diberi dua botol infus,” ujar Willy.
Agar pulih total, pihak rumah sakit merekomendasikan layanan rawat inap di ruang utama atau VIP. Alasannya, ruang rawat inap kelas 1-3 terisi penuh. Namun untuk itu, Willy diminta menyetor uang muka sebesar Rp 2,6 juta.
Penjelasan itu sempat membuat Willy kelimpungan. “Soalnya saya tidak punya uang,” ujar Willy. Lantaran itu, pihak rumah sakit menolak melanjutkan proses pengobatan Rena.
Sebelum pulang, Willy diminta membayar biaya perawatan darurat sebesar Rp 700 ribu. Uang sebesar itu pun Willy tak punya. Willy lalu menyerahkan dua buah telepon seluler miliknya dan milik Rena. “Sebagai jaminan,” kata Willy.
Willy membawa Rena pulang ke rumah pada pukul 06.00 WIB. Untuk menetralisir kandungan racun dalam tubuh, Willy sempat mencarikan Rena dua butir kelapa hijau. Namun sayang, ketika sampai di rumah, Rena telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Pihak rumah sakit Manuela membantah bila kematian Rena disebabkan oleh sistem pelayanan mereka. “Kami sudah berikan pertolongan pertama,” kata suster Margareta. “Keputusan pulang diambil oleh pasien,” tambahnya.
Sebelumnya, Tempo sempat menanyakan ihwal kondisi ruangan di rumah sakit tersebut kepada salah seorang operator telepon di ruang rawat inap. Ia menjelaskan bahwa ruang rawat inap kelas 1 dan 2 hari ini masih ada yang kosong. Riky Ferdianto
Topik :






Komentar Anda :