|
462 Siswa Tangerang Gagal Ujian Kesetaraan
Selasa, 24 Juli 2007 | 16:04 WIB
TEMPO Interaktif, Tangerang:Sebanyak 462 siswa di Kabupaten Tangerang tak lulus tes kesetaraan Paket B atau setingkat Sekolah Menengah Pertama reguler dan Paket C setara Sekolah Menengah Atas. Sebagian siwa dari jumlah 2.418 orang peserta Paket B dan C ini merupakan peserta didik yang sebelumnya tak lulus ujian nasional.
Setelah dinyatakan gagal UN, mereka mengikuti kegiatan belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat penyelenggara Kejar Paket B dan C. Dalam satu dua bulan terakhir mereka hanya diwajibkan mendalami bidang studi pelajaran yang nilainya dinyatakan tidak lulus pada UN.
Pelaksanan ujian Paket C sendiri berlangsung pada tanggal 19-22 Juni, sedangkan paket A dan B pada 26 sampai 28 Juni 2007. Dari seluruh peserta didik di ketiga Paket itu, di antaranya, 859 siswa berasal dari Kejar Paket B setara SLTP dan yang lulus sebanyak 757 siswa. Sisanya 102 siswa tidak lulus.
Peserta pendidikan kesetaraan paket B yang berasal dari sekolah formal tingkat SLTP tercatat 188 orang, dan dari jumlah ini dinyatakan lulus berjumlah 187 murid, sementara 1 orang lagi gagal.
Untuk siswa yang berasal dari kejar paket C setara SLTA reguler terdapat 1.268
orang, dan sebanyak 911 siswa di antarnya lulus, sedangkan 357 orang lainnya gagal. Untuk siswa SLTA peserta Paket C yang berasal dari sekolah formal berjumlah 143 orang. sebanyak 141 siswa dinyatakan lulus dan hanya 2 orang yang gagal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Muhyi Syarifudin, menyatakan, banyaknya siswa Kejar Paket B dan Paket C yang tidak lulus UN lantaran proses belajar mengajarnya yang diikutinya tidak dilakukan setiap hari. Biasanya, kata Muhyi, mereka hanya mengikuti KBM satu kali dalam seminggu. "Akibatnya, tidak semua bidang studi bisa di pelajari," ujarnya di Tangerang, Selasa (24/7).
Kendala lainnya, kata Muhyi, kualitas PKBM tempatnya belajar kurang memenuhi syarat. Peserta didik kemudian hanya mempelajari buku-buku yang tertera pada modul paket sesuai tingkatannya. "Siswa juga sering terganggu dengan aktivitas pekerjaan rutin sehar-hari. Sekedar informasi saja, sebagian besar siswa kejar paket B dan C berstatus pekerja," katanya.
Joniansyah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|