Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ratusan Hektare Sawah di Tangerang Kekeringan
Minggu, 12 Agustus 2007 | 17:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:


Sebagian sawah milik petani di wilayah pantai utara (Pantura) Kabupaten Tangerang kini terancam kekeringan. Padi pun terancam puso alias gagal panen karena tak mendapat pasokan air.

"Dari 400 hektar swah yang ada 300 hektarnya sudah kekeringan," ujar Kepala desa Kalibaru Pakuhaji, Jamin, kepada Tempo akhir pekan lalu.

Selain di Pakuhaji, di Kecamatan Teluknaga sebagian sawah juga mengalami kekeringan. Dari wilayah yang terkena kekeringan itu, usia padi umumnya antara 30 hingga 40 hari. Artinya, jika dalam beberapa pekan ke depan sawah itu tak mendapat pasokan air, petani bakal mengalami gagal panen.

Sejumlah petani di kecamatan Kohod Pakuhaji mengaku sangat khawatir menghadapi dampak kekeringan kali ini. “Kami khawatir, karena panen lalu hasilnya tidak begitu menggembirakan. Tapi kali ini kami diancam pula oleh kekurangan air,” kata Gandi petani di Kohod.

Saat ini, sebagian lahan petani padi di Pakuhaji sudah ditanam padi yang baru berumur satu bulan. Untuk mengatasi masalah air, mereka melakukan pompanisasi, namun hasilnya tidak maksimal. Keterbatasan peralatan membuat tak semua areal sawah mendapat pasokan air.

Kepala Seksi Rehabilitasi Lahan Pertanian Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang Astawi Suyangsa, saat ini kekeringan yang cukup serius terjadi di Kecamatan Kronjo. Kekeringan di daerah ini, bakal memfusokan lahan seluas 250 hektare tanaman padi petani yang ada di Desa Pagedangan Ilir, Pagedangan Udik, Pagenjahan, Jenggot, Pasilian, dan Desa Kronjo.

Menurut Astawi, selain disebabkan musim kemarau, kekeringan juga disebabkan tidak meratanya distribusi air irigasi dari Sungai Cisadane. Ini karena Kronjo letaknya paling ujung Kabupaten Tangerang.

Untuk mengantisipasi kekeringan, sebagian warga, kata Astawi, membuat sumur pantek dan pompa. Namun, hingga saat ini jumlahnya masih sangat terbatas. Satu pompa yang idealnya digunakan untuk mengairi sawah 10 hektar, oleh warga masih digunakan untuk sawah 40 hektar. “Belum banyak yang menggunakan sumur pompa, karena biayanya mahal,”kata Astawi.

Joniansyah


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk105372 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< August,2007>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data