Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta Saksikan Gerhana Bulan Saros 128
Selasa, 28 Agustus 2007 | 21:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Jakarta akhirnya berkesempatan menyaksikan gerhana bulan total tipe Saros 128, setelah gerhana bulan berkarakteristik sama terlihat terakhir pada tahun 1989.


Di Planetarium Cikini, gerhana bulan baru terlihat pukul 18.39 WIB, karena terhalang gedung-gedung tinggi. Cuaca sore ini cerah tanpa awan sehingga gerhana bulan dengan cahaya kemerahannya pelan-pelan membulat dan menyapa warga Jakarta.

Gerhana bulan tipe ini berdurasi 5 jam 30 menit 30 detik. Ia juga memiliki jalur khusus, yakni hanya terlihat utuh di Indonesia, Amerika Serikat, Jepang, Malaysia, Filipina, dan Australia. Tapi ia tertutup sama sekali dari benua Afrika dan Eropa.

Sesuai siklusnya, gerhana tipe ini terjadi setiap 18 tahun sekali ini. Namun, "Selama ini selalu terhalang kabut, awan tebal dan mendung," ujar pengamat astronomi Planetarium Jakarta Widya Sawetar, Selasa (28/8) sore.

Gerhana bulan Saros 128 yang terjadi pada 28 Agustus 2007 ini merupakan kali ke-40 Saros mengitari bumi sejak sekitar 780 tahun yang lalu. Setelah 71 kali mengitari bumi, gerhana bulan Saros 128 hilang dan berganti dengan tipe lain, karena karakteristik yang sama tidak akan terjadi lagi.

Walau gerhana bulan adalah fenomena alam biasa, tapi uniknya, gerhana dalam kali ini bulan terlihat langsung berwarna merah saat terbit. Warga Jakarta cukup antusias berdatangan ke Planetarium untuk melihat fenomena alam ini.

Widya menambahkan, gerhana bulan ini telah berlangsung sejak pukul 14.52.00 WIB, dan berakhir pada 20.22.30 WIB. Namun gerhana bulan total baru bisa dilihat warga Jakarta mulai pukul 17.51.06-18.22.48 WIB.

Dan gerhana bulan parsial atau sebagian mulai pukul 18.22.48-19.23.54 WIB, di mana piringan lingkaran bayangan umbra bumi yang gelap menutupi bulan purnama.

Mulai pukul 19.23.54-20.22.30 berlangsung gerhana bulan penumbra atau samar, di mana bayangan samar bumi menutupi bulan purnama. Bayangan bumi ini cahayanya terlalu lemah sehingga tidak teramati mata telanjang.

Pada gerhana fase bulat penuh (purnama), seluruh permukaan bulan yang menghadap ke bumi juga menghadap matahari. Pada saat itu berlangsung, bayangan samar (penumbra) dan gelap (umbra) bumi menutupi bulan.

Salah satu pengunjung, Alya (23 tahun) warga Tangerang, mengaku sangat senang bisa menyaksikan gerhana dengan mata telanjang. "Karena ini fenomena alam," ujarnya. Badriah


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Sebagian Gerhana Terlihat di Boscha
Pengamatan Gerhana di Boscha Jadi Ajang Uji Coba Siaran Pengamatan Hilal
Efek Gerhana Bulan, Gelombang Pasang di Pulau Siberut
Gerhana Bulan Bisa Sebabkan Rob
Bulan Menghilang Selasa Malam

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk106456 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< August,2007>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data