|
Dana Kerohiman Membengkak
Jum'at, 31 Agustus 2007 | 20:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Walikota Jakarta Utara Effendi Anas mengatakan uang kerohiman bagi warga kolong tol yang semula diperkirakan sebesar Rp 11 Miliar kemungkinan akan membengkak. "Karena warga kolong tol yang punya KTP DKI juga menerimanya," katanya, Jumat (31/08).
Sebelumnya, uang kerohiman hanya diberikan kepada warga kolong tol yang tidak memiliki KTP DKI. Uang tersebut dimaksudkan sebagai ongkos pulang kampung bagi warga kolong tol. Sedangkan warga kolong tol yang memiliki KTP DKI akan direlokasi ke rumah susun Marunda, Tipar Cakung, dan rumah susun Kapuk Muara.
Namun, saat uang kerohiman mulai digulirkan pagi tadi, kebijakan tersebut diubah. "Warga kolong tol yang punya KTP DKI bisa memilih ke rumah susun atau uang kerohiman," katanya.
Kebijakan tersebut ditempuh mengingat kondisi rumah susun yang akan ditempati warga kolong tol belum siap. Warga lebih memilih mengambil uang kerohiman.
Di Kelurahan Warakas misalnya, dari 940 orang yang tercatat sebagai penerima dana kerohiman, tidak sampai 20 orang yang bersedia direlokasi ke rumah susun. Sebabnya, "Sampai detik ini PLN dan PAM belum tersambung di ruman susun Marunda," kata Wakil Lurah Warakas, Mulyadi.
Hal tersebut dibenarkan seorang warga Papanngo bernama Yusuf. Menurutnya, rumah susun terlalu jauh. "Karena itu saya pilih duitnya aja," katanya.
Dana kerohiman sebesar Rp 11 miliar diperuntukkan bagi 11 ribu jiwa warga kolong tol yang tidak ber-KTP DKI. Jika warga kolong tol yang memiliki KTP DKI turut mengambil uang kerohiman, dipastikan dananya akan membengkak. "Dananya mungkin memang bertambah," kata Walikota. Namun ia belum bisa mengatakan berapa besar penambahan dananya.Dwi Riyanto Agustiar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|