Potensi Banjir Jakarta Meningkat
Senin, 26 November 2007 | 21:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan potensi banjir yang akan menimpa Jakarta tahun 2007-2008 meningkat.
"Berdasarkan pantauan kami pada 10 tahun terakhir, kerentanan terjadinya banjir di Jabodetabek meningkat dan meluas," ujar Kelapa Bidang Informasi, Klimatologi dan Kualitas Udara, Endro Santoso dalam rapat antisipasi Banjir 2007/2008 di Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta Timur, Senin petang (26/11).
Ia menjelaskan, meningkatnya potensi bencana itu diakibatkan daya dukung lingkungan yang kurang. "Tahun 2002 curah hujan 80 milimeter, air masih menggenang di jalan. Sekarang (tahun 2007), curah hujan 50 milimeter saja, air sudah masuk ke rumah semata kaki," ujarnya.
Ia mengatakan masyarakat harus berhati-hati bila hujan deras mengguyur Jakarta lebih dari satu jam.
"Hujan deras itu biasanya curahnya sekitar 20 milimeter," ujarnya.
Sementara itu, Deputi III Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Masnellyarti Hilman, mengatakan pihaknya tengah mensosialisasikan pembuatan sumur resapan dan lubang resapan biopori. "Sumur resapan mampu menyerap 40 persen air ke tanah," ujarnya.
Saat ini, kata dia, Jakarta memiliki 39 ribu sumur resapan. Kementerian Negara Lingkungan Hidup berupaya untuk membangun 100 ribu sumur resapan untuk memaksimalkan potensi penyerapan air.
Masnellyarti juga mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah di Kabupaten Bogor, Bekasi, dan Tangerang terkait antisipasi banjir Jakarta. "Banjir Jakarta terjadi karena 'buangan' air dari daerah sekitarnya," ia menambahkan.
Asisten Deputi III Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Antung Deddy menyebutkan, selain menambah jumlah sumur resapan dan lubang resapan biopori, pihaknya juga mengaktifkan dan memperbaiki kualitas situ dan daerah aliran sungai.
"Pengerukan sungai tengah dilakukan dan pembenahan dilakukan pada daerah aliran sungai yang tersumbat," ujarnya.
Berdasarkan International Disaster Database, sepuluh kejadian bencana di Indonesia yang terjadi setelah tahun 1990, sebagian besar merupakan bencana banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan ledakan penyakit.
Sementara itu, Data Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyebutkan banjir di wilayah Jabodetabek selama 5 hari memberikan kerugian sebesar Rp 8,6 triliun atau setara dengan 48 persen APBD DKI tahun 2006. Amandra Mustika Megarani





