|
Empat Ton Jatah Beras Miskin Tak Layah Konsumsi
Selasa, 08 April 2008 | 19:17 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sedikitnya 202 karung atau sekitar 4 ton lebih beras miskin jatah untuk warga Desa Campurejo, Kecamatan Kota Bojonegoro, tidak layak konsumsi. Beras tersebut, selain berwarna cokelat juga berbau.
Warga desa yang terletak di sebelah timur Kota Bojonegoro ini, mengembalikan beras jatah untuk keluarga prasejahtera. Beras miskin yang dibeli dengan harga Rp 1600 perkilogram itu, akan dikembalikan lewat kantor desa setempat untuk kemudian dikirim kembali ke Sub-Divisi Regional III Perum Bulog Bojonegoro. “Kwalitas berasnya seperti itu, kurang bagus,” tegas Machrus, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Campurejo, Kecamatan Kota Bojonegoro, Selasa (8/4).
Dalam catatan Kantor Desa Campurejo menyebutkan, stok beras murah berkualitas buruk itu, sekaligus mengulangi untuk kedua kalinya. Pasalnya, jatak raskin pada bulan lalu, sebanyak 210 karung atau setara dengan 4,2 ton itu juga berwarna kuning dan bau. Kemudian untuk bulan ini jatah beras miskin sebanyak 202 atau setara dengan 4 ton lebih, juga kwalitasnya buruk. Warnanya kuning kehitam-hitaman dan berbau.
Di Desa Campurejo, yang tercatat mendapatkan jatah beras miskin sebanyak 373 kepala keluarga dari total sebanyak 1600 kepala keluarga di desa tersebut. Biasanya, jatah beras miskin akan datang satu bulan sekali dari Bulog setempat yang langsung didrop ke kantor-kantor desa. Untuk mendapatkan beras miskin, warga membeli dengan harga Rp 1600 per kilogram.
Salah satu warga penerima beras miskin, di RT 11 RW 2 Desa Campurejo mendapatkan beras miskin sebanyak 20 kilogram. Tetapi, begitu dilihat warna beras itu kuning kehitam-hitaman juga berbau. Akhirnya beras itu dikembalikan ke kantor desa setempat. “Ya kami kembalikan,” kata Kadam, warga Desa Campurejo.
Warga di desa itu juga sepakat mengembalikan beras miskin jika kondisinya tidak layak konsumsi. Mereka juga meminta agar aparat Desa Campurejo untuk meneliti terlebih dahulu kondisi beras yang diterima warga.
Pihak Sub-Divisi Regional III Perum Bulog Bojonegoro, hingga siang ini, belum bisa dikonformasi. Imam Budi, kepala kantor Bulog Bojonegoro di Jl Patimura, tidak ada di tempat. Telepon selularnya, meskipun aktif, tetapi yang bersangkutan tidak mau mengangkat.
Qohar Mahmudi, anggota DPRD Bojonegoro menyangkan jatah beras miskin yang tak layaka konsumsi. Menurutnya, jika kualitas beras jelek, warga diminta tidak usah menerima. “Apalagi mereka inikan juga membeli. Jadi ini perlu ada perhatian dari Bulog,” ujarnya. sujatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|