|
Balada Rumah di Tengah Galian Banjir Kanal
Minggu, 20 April 2008 | 20:00 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Anda akan menemui pemandangan unik saat melintasi Kelurahan Cipinang Muara di sepanjang jalur galian proyek Banjir Kanal Timur.
Bukan hanya pemandangan puluhan bekas bangunan yang dirobohkan atau cerukan lebar sedalam 3-4 meter, tapi juga sebuah rumah dua lantai yang berdiri di tengah lubang galian sedalam 3 meter dengan lebar sekitar 150 meter.
Nyala lampu, jemuran baju, dan peralatan masak, menandai bahwa rumah itu masih dihuni. Di bawahnya sejumlah truk-truk besi dan eskavator seakan enggan menyentuh.
Rumah bernomor 97 itu berdiri di daerah bekas RT 9 RW 14 Kelurahan Cipinang Muara. Para tetangga sekitar mengatakan rumah itu milik Rama (23) yang dulunya mewarisi rumah itu dari kakeknya. "Saat ini Rama tinggal di daerah Klender, tapi saya tidak tahu detail alamatnya," ujar Fauzi (23 tahun) salah satu warga Cipinang Muara.
Menurut penuturan Fauzi pemilik rumah itu mengkontrakkan ke seorang polisi sejak 8 bulan lalu. "Tapi kami tidak kenal namanya, ia jarang bergaul, yang jelas ia tinggal di sana dengan seorang anaknya," ujar tambahnya.
Saat Tempo datang penghuni rumah tidak ada di tempat. Pintu terkunci dari luar, namun di lantai dua rumah tampak beberapa baju anak-anak dijemur, pertanda ada anak-anak yang menghuni rumah itu. "Mungkin sedang keluar liburan, biasanya pagi-pagi saya lihat dia mengantarkan anaknya sekolah dan balik malam," kata Fauzi.
Selain itu juga masih ada beberapa perabotan masak yang tampak di salah satu bagian lantai dua yang tampaknya juga dipakai untuk dapur. Sebuah topi polisi tergeletak di salah satu meja beranda atas.
Warga tidak tahu pasti alasan penghuni rumah itu tetap tinggal meskipun sekitarnya telah dikeruk oleh pekerja proyek DKT. "Kami juga heran padahal hampir tiap hari ia mesti naik-turun menyebrangi lubang becek sedalam 3 meter, belum lagi kalu hujan kadang dipenuhi air," ujar Budi (24 tahun) warga Cipinang Muara. "Kami dengar pemilik rumah tetap mempertahankan rumah itu karena pembayaran belum beres," tambahnya.
Keberadaan rumah di tengah-tengah lahan galian jelas mengganggu pekerja proyek BKT. Apalagi sejumlah eskavator tampak terus mengeruk tanah sekitar rumah. Selain itu sejumlah truk terkadang juga mesti melintas sekitar rumah saat mengangkut mengangkut tanah galian.
Sebagian pekerja mengaku takut berada di sekitar rumah itu. Salah satu sopir eskavator mengaku khawatir setiap melakukan pengerukan di sekitar rumah itu. Karena bisa saja tiba-tiba rumah itu roboh karena sekitarnya telah dikeruk. "Bukan hanya berbahaya bagi penghuni, tapi juga bagi pekerja," ujar salah satu pekerja yang enggan disebutkan namanya. Agung Sedayu
INDEKS BERITA LAINNYA :
|