close

Pembantai Itu Hanya Diam

Senin, 07 Juli 2008 | 00:20 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: TRI Widyomurdani tak banyak cakap. Semua pertanyaan penyidik dijawab seperlunya. Tak banyak bicara. Dani, begitu nama panggilannya, lebih sering menunduk. "Selama pemeriksaan, dia cenderung diam," ucap Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Utara Komisaris Besar Masguntur Laope kepada Tempo kemarin.

Lajang 23 tahun ini juga bungkam ketika melihat sahabat kentalnya, Teguh Santosa, kebingungan pucat pasi setelah mendapati orangtua dan adiknya mati bersimbah darah Jumat pekan lalu. Seperti tak terjadi apa-apa. Biasa saja.

Waktu mengetahui seluruh keluarganya mati, yang dikhawatirkannya cuma Dani. Teguh, 22 tahun, lari berkelebat masuk kamar yang biasa ditidurnya bersama Dani. Ia melihat Dani seperti sedang tidur. Aman. Lantas, Teguh memanggil tetangganya untuk meminta pertolongan.

Dalam kesedihannya, Teguh sempat menanyakan kepada Dani apakah karibnya itu mengetahui pelakunya. Sebab hanya Dani yang hidup. “Atau, kamu ya pelakunya?” tanya Teguh ragu. "Tapi dia diam saja," katanya.

Teguh kehilangan kata ketika diminta menceritakan bagaimana perasaanya ketika melihat keluarga yang sangat dicintainya punah. Pada saat itu, Teguh baru pulang kuliah di Universitas Islam Ash-Shofiyah, Bekasi Selatan. Rumahnya di Jalan Umar Nomor 126, Kampung Hutan, Kelurahan Jakasetia, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, gelap gulita. "Saya tahu ada orang karena suara televisi terdengar dari luar," katanya kepada Tempo.

Teguh masuk rumah lewat pintu garasi samping. Di depan pintu kamar mandi ia melihat genangan darah. “Perasaan saya langsung tak enak.” Di dalam kamar mandi, ia temukan sang ibu, Tati Jum'ati (40), dan adik satu-satunya, Nada Alfatihah (11) tergeletak. Di ruang tamu, Teguh melihat Heru Cahyo (52), ayahnya, sudah mandi darah.

Sebelumnya, sekitar pukul 18.00 Dani menusuk mereka satu per satu dengan sebilah pisau dapur yang baru dibelinya di pasar. Dani mengaku sakit hati lantaran kesal terhadap ibunda Teguh yang menegurnya karena menyetel suara televisi kelewat kencang. Ia bukan orang lain bagi keluarga nahas itu. Dani sering menginap di sana. Bahkan, waktu pembunuhan sadis itu terjadi, Dani sudah bermalam tiga hari. “Kami arahkan ke pembunuhan berencana," kata Masguntur.

Rudy Prasetyo | Mustafa Silalahi

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan