Boker Hidup Lagi!
Senin, 07 Juli 2008 | 02:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: SETIAP pulang malam, Mardiana Helda Pietersz selalu cemas. Perempuan 24 tahun itu tinggal di kawasan Gongseng, Cijantung, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Dekat sekali dengan lokasi pelacuran ilegal Boker.
Begitu turun dari angkutan umum, pria-pria iseng menggoda Helda. “Pokoknya, tak nyaman,” kata karyawati yang sering pulang malam karena nyambi kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta itu.
Kelakuan lelaki hidung belang juga dialami Sulistiani, 25 tahun. “Jengah rasanya kalau lewat sana.” Bukan sekali dua kali dia dihampiri pria mabuk. Maka jika hari sudah gelap dia memilih jalan memutar yang lebih jauh.
Sebenarnya, Boker sudah ditutup pemerintah sejak 2003. Lahan dan bangunan untuk bisnis seks di sana dibeli pemerintah, luasnya 4,6 hektare. Pemerintah mengucurkan dana Rp 3,4 miliar. Rencananya akan dibangun sarana olah raga terlengkap di Jakarta Timur. Sebentuk stadion setengah jadi terlihat masih dalam pengerjaan.
“Meski sudah digusur, pelacuran di sini tak pernah hilang,” ujar Susanto, warga sekitar Boker. Sekitar 70 tenda berderet rapat di tembok pembatas proyek stadion di sisi Utara dan Timur. Di sana lah perempuan-perempuan pemuas nafsu dan lelaki haus hiburan bertransaksi. “Beberapa bulan belakangan semakin marak,” katanya. “emerintah sepertinya tak peduli.”
Perjudian juga menjamur dan terbuka. Berdasarkan pantauan Tempo, ada tiga lokasi judi. Seorang warga mengatakan, arena perjudian itu dikelola oleh aparat keamanan. “Makanya nggak ada yang berani nangkap,” ucapnya sambil berpedan agar identitasnya dirahasiakan.
Lurah Ciracas Fauzan Ishak ogah melontarkan tanggapan. “Saya punya hak untuk tidak bersedia ditemui wartawan.” Wakil Walikota Jakarta Timur Terman Siregar bahkan mengaku belum soal prostitusi dan perjudian liar tadi. "Saya belum pernah mendapat laporan,” ujarnya. Ia berjanji, “Awal Juli Boker sudah ditertibkan."
Selain mengundang potensi konflik antarwarga, Boker rawan HIV/AIDS. Komalasari, Project Manager HIV/AIDS Palang Merah Indonesia Jakarta Timur, mengatakan menurut survey, Ciracas paling rawan penyakit yang menggerogoti kekebalan tubuh itu.
Kepala Seksi Penyakit Menular Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Timur, Sri Harumini, angkat tangan soal kontrol terhadap penjaja seks di Boger. Tahun ini belum ada pengecekan
kesehatan. Terakhir tahun lalu. Itu sebabnya, persebaran HIV/AIDS tak terdeteksi. "Kendalanya, mengumpulkan pekerja seks dan dana belum turun,” kata Sri.
SUSENO | AGUNG SEDAYU | IBNU RUSYDI





