close

Ryan Sering Kecoh Polisi

Rabu, 23 Juli 2008 | 05:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tersangka pembunuhan berantai Verry Idham Henyaksyah alias Ryan beberapa kali mengecoh penyidik Polda Metro Jaya. Seorang penyidik mengatakan tingkah lajang 30 tahun sempat merepotkan tapi polisi tak terjebak.

Ketika akan ditangkap dalam kasus pembunuhan dan mutilasi Heri Santoso, 40 tahun, pekan lalu Ryan mengaku bernama Vincent. Setelah ditekan penyidik, barulah ia mengaku bernama Ryan. Belakangan diketahui, Vincent adalah salah satu korbannya yang dibunuh dan dikubur di Jombang. Korban lainnya yang dihabisi di Jombang adalah Ariel Somba Sitanggang, Guntur, dan Brandy yang warga negara Belanda.

“Ketika polisi mencari Ariel, Ryan kembali berulah,” kata penyidik itu kepada Tempo kemarin. Ketika diperiksa di Markas Polda Metro Jaya, Ryan mengaku sempat mengunjungi obyek wisata Soban Rondo di Batu, Malang, Jawa Timur, bersama Ariel. Dua perwira penyidik diberangkatkan ke Malang. Hasilnya nihil, tak ada yang melihat Ryan bersama Ariel di sana. Akhirnya, pria gay itu digiring ke Jawa Timur. Setibanya di Bandar Udara Juanda, Surabaya, pada Sabtu pekan lalu barulah Ryan mengaku bersama Ariel sempat ke Jombang.

Rombongan pun bergerak ke Jombang. Di rumah orang tua Ryan di Jalan Melati, Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur, polisi menemukan sejumlah kuburan di halaman belakang pada Ahad larut malam. Esok paginya penggalian dilakukan dan ditemukan empat jasad di sana. “Ryan tak bisa lagi berkelit,” kata Direktur Reserse Kriminal Polda Metro Jaya Komisaris Besar Carlo Brix Tewu di kantornya kemarin.

Pada Juni lalu, Ryan pernah dua kali diperiksa Satuan Reserse Mobile Polda Metro Jaya perihal keberadaan Ariel. Kala itu, Ryan belum diketahui terlibat pembunuhan. Kepada pemeriksa, Ryan berkeras tak tahu-menahu di mana Ariel.

Setelah kasus pembunuhan itu terbongkar, penyidik Satuan Kejahatan Dengan Kekerasan Polda Metro Jaya yang berangkat ke Jawa Timur kebanjiran pesan pendek dan telepon dari warga. Mereka mengabari tentang orang hilang, bertanya, sampai menyemangati petugas.

Menurut penyidik Satuan Kejahatan Dengan Kekerasan Ajun Komisaris Danang Dwi Kartiko, hingga kemarin siang sekitar 20 pesan dan enam telepon masuk ke telepon selulernya. "Ada dari Surabaya, Jombang dan Jakarta," ujarnya. Salah satu pesan singkat mengabarkan, seseorang bernama Armand hilang sejak 13 April 2007. Si pengirim, bekas guru Armand, mengaku khawatir karena perilaku homoseks Armand. Pengaduan juga sudah disampaikan ke polres setempat.

Jobpie S. | Ibnu Rusydi

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan