Pemakaman di Hari Kelahiran

Jum'at, 25 Juli 2008 | 18:59 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Suasana hening saat seorang tua dengan jas abu-abu berpeci putih mengumandangkan azan dalam sebuah acara pemakaman. Tidak terdengar isak tangis, tidak terlihat ada yang menangis kecuali dapat membuka rahasia dibalik kacamata hitam para pelayat itu. Namun yang pasti wajah mereka terlihat sendu.

Azan pun berakhir dengan lafal Laa ilaha illahailallah kemudian peti jenazah diturunkan ke dalam liang lahat. Di dalam peti itu ada jenazah seorang pria berusia 48 tahun yang berbaring miring menghadap kiblat.

Istri dan anak-anak dari pria itu belum juga hadir dalam acara pemakaman siang hari itu. Namun prosesi tidak dapat menunggu. "Demi kebaikan jenazah, kita langsung lanjutkan ke prosesi pemakaman," kata sang pria tua yang tadi mengumandangkan azan.

Pria itu ditemukan tewas pada 23 Juli lalu. Hari ini telah dua hari setelah meninggalnya. Bila menurut aturan, jenazah harusnya telah dikebumikan 24 jam setelah meninggalnya.

Maka dua orang kakak dari pria yang meninggal itu mewakili istri dan anak-anak menaburkan bunga di atas peti sebelum tanah merah menimbunnya. Mereka adalah kakak laki-laki yang paling pertama dan kakak perempuan nomor tiga.

Seusai prosesi tabur bunga yang diiringi doa-doa, maka peti segera ditimbun dengan tanah. Empat orang penggali makam yang telah ahli dengan cepat mencangkul tanah merah dan memasukannya ke dalam lubang.

Sang istri dan anak-anak belum juga datang. Setelah pusara terbentuk, seorang sahabat yang sedari tadi memegangi foto almarhum, meletakkan foto itu di depan nisan kayu.

Kemudian pria tua berpeci putih kembali mengambil alih. Ia mengajak para pelayat berjongkok dan membacakan doa untuk jenazah.

Saat itulah, istri dan anak-anaknya datang. Sambil menahan tangis, sang istri memandangi pusara suaminya sambil ikut berdoa. Seusai doa, istri dan anak-anak darii pria itu mendapat giliran untuk menabur bunga di atas makam yang masih merah.

Taburan bunga dan rangkaian doa itu hanya ditujukan untuk seorang pria berusia 48 tahun bernama Bambang Sapto Nugroho. Sapto, sebagaimana keluarga dan kerabat memanggilnya adalah anak ke-11 dari 12 bersaudara. Dia lahir di Magelang 25 Juli 1960. Dua hari lalu jenazahnya ditemukan didalam koper di Danau Sunter. Dia dimakamkan Jumat 25 Juli 2008 tepat di hari ulang tahunnya.
(EKA UTAMI APRILIA)

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: