close

Krisis Air Tanah Jakarta Berbahaya

Minggu, 01 Maret 2009 | 15:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Krisis air tanah di Jakarta sudah memasuki tahap berbahaya. Ketua Harian Komite Evaluasi Lingkungan Kota Darrundono mengatakan eksploitasi air tanah berlebihan menyebabkan permukaan tanah turun. Menurut dia, suplai air tanah tak bertambah, sedangkan penggunaan semakin besar.

Turunnya permukaan tanah ini menyebabkan Jakarta perlahan-lahan akan berada di bawah permukaan air laut. "Nanti mobil harus diganti dengan gondola," ujarnya. Saat ini, intrusi air laut sudah mencapai 11 hingga 12 kilometer dari garis pantai. Intrusi air laut sudah memasuki wilayah Setia Budi, Jakarta Selatan. Banjir akan semakin dahsyat. "Biar Banjir Kanal Timur selesai, tetap akan banjir," katanya.

Intrusi air laut dan penurunan permukaan tanah juga tidak akrab dengan bangunan. "Bangunan bisa amblas," ujarnya.

Ia juga mengkritik Pemerintah DKI Jakarta yang demi menggeruk Pendapatan Asli Daerah dengan mengorbankan masalah lingkungan. Ia mencontohkan pembangunan superblok, dan gedung-gedung tinggi yang bertaburan di Jakarta. "Pemerintah mengijinkan bangunan-bangunan tinggi, padahal melanggar koefisien luas bangunan yang diperbolehkan," katanya. Ia memberi contoh salah satu gedung yang sebenarnya hanya boleh membangun 20 lantai, tapi mendapat ijin menjadi 40 lantai. Pembangunan gedung-gedung tinggi ini ikut menggerus persediaan air tanah. Struktur bangunan dengan basement yang dalam juga menggurangi kemampuan menyerap air hujan."Kebijakan ini mencelakakan orang Jakarta," katanya.

Selain itu, daerah aliran 13 sungai di Jakarta juga tidak steril dari bangunan. "Padahal itu penting untuk menambah penyerapan air tanah," katanya. Sekitar 200 situ disekeliling Jakarta yang dulunya menampung air sehingga bisa diserap menjadi air tanah juga sudah berkurang jumlahnya. "Dari 200 situ tinggal 30," katanya.

SOFIAN


  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan