Ratusan karyawan Rumah Sakit Husada, Jakarta Pusat, mengadakan aksi protes terhadap kebijakan direksi yang dinilai merugikan karyawan seperti membuat keputusan sepihak.

">
close

Protes Kebijakan Direksi, Ratusan Karyawan RS Husada Berunjuk Rasa

Selasa, 21 April 2009 | 13:01 WIB

TEMPO Interaktif , Jakarta-Ratusan karyawan Rumah Sakit Husada, Jakarta Pusat, mengadakan aksi protes terhadap kebijakan direksi yang dinilai merugikan karyawan. Aksi tersebut dilakukan di aula lantai 9 ruangan mangement, Selasa (21/4). Aksi yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga saat ini masih berlangsung.

"Kami kecewa terhadap kinerja direksi yang membuat keputusan sepihak," kata Ketua aksi Bambang Dwinanto di lokasi unjuk rasa, Selasa siang (21/4).

Menurut Bambang, kebijakan sepihak ini berlangsung sejak 6 bulan yang lalu atau semenjak kursi direktur umum dipegang dr Hingawati. Kepala ruangan radiologi ini juga menjelaskan, Hinggawati banyak menghambur-hamburkan uang misalnya penambahan karyawan yang tidak perlu dan penggantian katering dari perusahaan mahal.

Pantauan Tempo, orasi dilakukan secara bergantian oleh karyawan. Mereka yang mengaku perwakilan dari 1500 karyawan berteriak menuntut dokter Hingawati turun dari jabatannya. Dalam aksinya mereka juga membawa spanduk berisi tuntutan. Aksi ini dijaga ketat oleh puluhan polisi.

Dokter Hingawati sempat memberikan keterangan di hadapan peserta unjuk rasa. Namun, dia tidak memberikan ketegasan dirinya bakal mundur dari jabatannya. "Kita tunggu hasil kesepakatan dengan direksi yang lain dan serikat karyawan nanti siang," jawabnya.

RINA WIDIASTUTI

Info Grafis

  • Unjuk Amarah Di Daerah

    Demonstrasi anarkistis tak hanya terjadi di Medan, Sumatera Utara, tapi sebelumnya juga muncul di banyak daerah.

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan