Tren Multi Gaya
Kamis, 12 November 2009 | 07:38 WIB
TEMPO Interaktif, Hitam tak berarti kedukaan. Tampil dengan warna hitam tak selalu dikenal sebagai dress code yang hanya untuk menghadiri acara resmi atau yang bersuasana duka. Di jagat mode, hitam justru sesuatu yang berkelas. Bagi Alma Riva, dengan hitam, orang bisa tampil girly, fungky, edgy, dan seksi, tanpa meninggalkan sifat elegannya.
"Karena perempuan usia matang pun masih layak tampil fungky," kata desainer muda yang menampilkan delapan karya-karya full hitamnya di perhelatan Jogja Fashion Tendance 2010 di The Phoenix Hotel, Yogyakarta, Sabtu malam pekan lalu, itu.
Gelar peragaan ini berlangsung meriah. Ruangan yang tak terlalu luas bagi para model untuk berlenggak-lenggok di catwalk itu kian penuh oleh 200 undangan. Bahkan para tamu rela berdiri karena penasaran ingin melongok tren 2010 yang diprediksi oleh Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) cabang Yogyakarta itu.
Demi membuat perempuan tampil lebih cantik lagi lewat tema "Chic to Chic", Alma menjadikan busana cocktail dikreasikan dengan model gaun di atas lutut yang ketat ataupun longgar yang mengembang di bagian bawahnya. Bahan satin, katun, tule, rajut, dan sifon yang digunakannya diaplikasikan dengan aksesori berupa batu-batuan, lempengan, payet, dan smok yang serba hitam pula.
Jika Alma menonjolkan hitamnya, desainer batik Afif Syakur terlihat ingin menampilkan keceriaan lewat warna-warna pelangi. Namun, kecerahan warna pelangi diubahnya menjadi warna tone dingin dan pucat. Sebuah gambaran masyarakat urban yang sangat tinggi mobilitas, kemajuan teknologi, dan tinggi tingkat polusinya hingga membuat kehidupan tidak sehat diaplikasikan lewat tema "Pale".
Namun, Afif masih memperhatikan batik sebagai keakuannya, yang dipadu dengan catton silk dan shifon silk. Uniknya, untuk menunjukkan tren bangunan-bangunan tinggi di perkotaan, Afif menandainya dengan origami warna pelangi pucat yang dipasangkan pada ujung gelungan rambut model-modelnya.
Jika dicermati, memang ada yang berbeda dengan tema peragaan yang digelar APPMI cabang Yogyakarta kali kedua malam itu. Bekerja sama dengan Junior Chamber Internasional Indonesia Yogyakarta, Fashion Tendance 2010 mengangkat tema besar, yaitu "Beyond Time". "Tak ada dominasi tren tertentu untuk fashion 2010. Itulah tren 2010," ujar Ninik Darmawan, Ketua APPMI Yogyakarta.
Tak aneh jika 14 perancang yang menghadirkan kreasinya masing-masing mempunyai tema yang berbeda. Dimulai dari tema "Belle File", karya perancang Dinas Isfandiary, yang terpesona oleh keanggunan dan kepolosan gadis bunga desa. Karyanya pun, yang ditandai dengan warna busana hitam-putih dengan model kemben, terkesan feminin dan romantis, plus makeup yang minimalis. Hingga Wiwin Fitriana, yang terinspirasi oleh gadis-gadis metropolitan yang tampil ceria, dinamis, dan girly. Lihatlah aksesori wig ala Edi Brokoli yang dikenakan delapan modelnya yang dipadukan dengan kain bahan katun doby, sutra super, dan catton, yang mengangkat tema "Mini Chic: Instant Kosmopolitan".
Bahkan tema-tema serius disuguhkan Ninik, yang prihatin dengan bencana alam dan kerusakan yang datang silih berganti. Lewat tema "My Green Dream", bahan katun dan sutra dirancangnya dengan teknik patch work, teknik yang disukainya. Dia menonjolkan corak-corak warna cokelat tipis pada gaunnya, yang menandakan retakan-retakan tanah akibat gempa.
"Ini respons atas global warming. Tapi ternyata pemintalan kapas untuk fashion pun tak 100 persen melalui pendekatan ekologi," ucap Ninik, yang tampil khas dengan kacamata berbingkai tebal hitam.
PITO AGUSTIN RUDIANA (Yogyakarta)





Komentar Anda [1] :