Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Nasional  
  Ekonomi&Bisnis  
  Nusa  
  Jakarta  
  Indikator
  Opinet  
  Majalah  
  Koran  
 
   

Kesehatan

Pemisahan Si Kembar Anggie-Anjeli Berisiko Kematian
Kamis, 27 Januari 2005 | 20:28 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Penantian panjang pasangan suami istri, Sobari dan Neng Harmaini, harus diakhiri dengan kepasrahan. Anaknya yang kembar siam-Anggie dan Anjeli- belum bisa dipisah lantaran Tim Dokter RS Cipto Mangunkusumo Jakarta secara resmi menyatakan tak sanggup melakukan operasi.

Warga asal Kampung Baru Amansari, Serbalawan, Dolok Batunanggar, Kabupaten Simalungun, Pematang Siantar, ini kian bingung melihat si kembar anaknya yang semakin tumbuh besar.

Kepala Ilmu Kesehatan Anak RSCM dokter Arwin Akip berpendapat, upaya operasi tidak akan meningkatkan kualitas hidup pasangan kembar siam yang lahir pada 11 Februari 2004 ini. Operasi memisahkan tubuh Aggie dan Anjeli, menurutnya, berisiko sangat tinggi terhadap kematian baik saat operasi maupun sesudah operasi.

Karena alasan itu Tim Dokter yang terdiri dari dokter spesilis anak, dokter spesialis bedah anak, dokter spesialis bedah urologi, dokter spesialis bedah jantung, dokter spesialis bedah tulang, dokter spesialis jantung, dokter spesialis anestesi, dan keperawatan tidak merekomendasikan dilakukan operasi.

Menurut Kepala Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Merdias Almatsier, sejak Anggie dan Anjeli berumur 14 hari, pihaknya telah melakukan sejumlah penelitian. Penelitian yang dilakukan secara hati-hati selama 11 bulan itu, pada tubuh Anggie ditemukan kelainan letak jantung.

Jika pada bayi normal jantung berada di sebelah kiri, pada bayi ini terdapat di sebelah kanan. Anggie memiliki kelainan karena memiliki satu ginjal disebelah kiri. Pada tubuh yang normal seharusnya memiliki dua ginjal.
Fungsi ginjal juga dalam kondisi buruk. Anggie hanya memiliki satu kandung kemih dan saluran kencing satu untuk kedua bayi.

Sementara itu, pada bayi Anjeli ditemukan adanya kebocoran pada sekat antara bilik kanan dan bilik kiri jantung. Letak pembuluh darah juga tidak normal karena keduanya keluar dari bilik kanan. Hati dan limpa bayi Anjeli terletak pada posisi abnormal. Dia juga hanya memiliki satu ginjal sebelah kanan

Fungsi-fungsi sekresi dan ekresi pada Anjeli masih normal. Pemeriksaan saluran pencernaan yang dilakukan melalui Anjeli juga ditemukan gerakan usus terganggu dan hanya ada satu usus besar untuk kedua bayi.

Dari hasil pemeriksan yang terus menerus, kata Merdias, tim dokter berkesimpulan kelainan pada bayi tersebut dapat berkembang terus. Oleh karena itu, tim dokter saat itu tidak bisa memutuskan operasi. Tim dokter memutusakan untuk melihat perkembangan dan menunggu usia bayi hingga 6 bulan. "Dalam periode tersebut dilakukan perbaikan gizi, imunisasi dan pencegahan infeksi serta pemeriksaan lanjutan," katannya.

Saat usia bayi kembar menginjak 6 bulan, tim dokter ternyata belum bisa melakukan operasi karena masih diperlukan pemeriksaan lanjutan. Setelah bayi berumur 11 bulan ini tim dokter mengambil kesimpulan final: tidak melakukan operasi karena berbagai pertimbangan.

Menurut Merdias, ada berbagai pertimbangan mengapa tim dokter menolak melakukan operasi pemisahan. Risiko kematiannya sangat tinggi. Ini mengingat, sistem aliran darah dan suplai oksigen kedua bayi saling bergantung. Tindakan pembiusan dan operasi akan memperburuk oksigenisasi dan sirkulasi untuk organ-organtubuh mereka.

Kelainan yang begitu komplek juga akan membutuhkan waktu yang cukup lama saat operasi, sangat berbahaya untuk kedua bayi. Jika operasi pemisahan tanpa dilakukan perbaikan terhadap kelainan jantung bawaan, maka akan memperburuk fungsi jantung keduanya.

Namun jika dilakukan operasi jantung terlebih dahulu sebelum operasi pemisahan bayi, "Juga berbahaya karena dapat terjadi gangguan oksigenisasi jaringan secara mendadak yang berisiko pada kematian," tambah Arwin.

Ramidi-Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Seorang ibu sedang menjalani terapi di klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi (sekolah stroke) binaan Dr. Hermawan Suryadi, Sps di Kemanggisan, Jakarta, 22 Februari 2002. [ TEMPO/ Bagus Indahono; K7A/213/2002; 20020511 ]. Seorang penderita sroke sedang menjalani terapi di klinik Neuropsikiatri dan Revitalisasi (sekolah stroke) binaan Dr. Hermawan Suryadi, Sps di Kemanggisan, Jakarta, 22 Februari 2002. [ TEMPO/ Bagus Indahono; K7A/213/2002; 20020511 ].
Stroke
Stroke
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Menteri Kesehatan Nyatakan Telah Laksanakan Program 100 Hari dengan Baik
RS Zainoel Abidin Siap Hadapi Berbagai Kemungkinan
Makanan dan Minuman Kadaluwarsa Banyak Ditemukan di Meulaboh
Buah Mahoni, Tingkatkan Vitalitas dan Penyembuhan
Pemerintah Lakukan Imunisasi Massal di Alor
Menkes : Diare dan Paru-paru Dominasi Penyakit Pasca Tsunami
Sebagian Toko Obat Jakarta Utara Tidak Memiliki Ijin
Retribusi Puskemas Akan Dinaikkan
30 Persen Klinik Pengobatan Di Jakarta Pusat Tidak Berizin
RSUD Bekasi Tak Akui Lalai Tangani Sakun
> selengkapnya...


Referensi

UU RI No.9 Thn.1960 Tentang Pokok - Pokok Kesehatan
PP RI No.39 Thn.1995 Tentang Penelitian Pengembangnan Kesehatan
PP RI No.32 Thn.1996 Tentang Tenaga Kesehatan
Sebaran Demam Berdarah Dengue 1968 - 2003
Cakupan Pengobatan Massal
> selengkapnya...

Website

Info Penyakit Menular
Departemen Kesehatan


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Pasokan Daya Listrik PLN Tidak Transparan
Ratusan Pengusaha Tionghoa Nyatakan Dukungan Pada Yudhoyono
Presiden Optimistis Indonesia akan Jadi Lumbung Padi
Dua Pejabat Kutai Kertanegara Ditahan
Suara NU Tentukan Putaran Kedua Pemilihan Gubernur Jawa Timur

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data