|
Harga Rokok Murah Tingkatkan Konsumsi
Rabu, 19 Maret 2008 | 18:43 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Harga rokok di Indonesia termasuk murah dibandingkan negara-negara di kawasan ASEAN. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Kelompok Kerja Pengendalian Masalah Tembakau Widyastuti Soerojo mengungkapkan, harga rokok di Singapura pada 2007 sebesar US$ 7.47 atau sekitar Rp 69 ribu. Sedangkan di Indonesia sekitar US$ 0,9 atau sekitar Rp 9 ribu. Adapun harga rokok di Malaysia sebesar US$ 2.18 (Rp 20 ribu) dan di Thailand US$ 1.79 (Rp 16 ribu). ”Harga rokok yang murah serta akses yang mudah tanpa ada peraturan yang membatasi mengakibatkan konsumsi rokok di Indonesia senantiasa meningkat,” ujar Widyastuti di Jakarta, Rabu (19/3).
Widyastuti mengatakan, untuk rokok pemerintah menetapkan harga jual eceran (HJE) dan tingkat cukai rokok. Indonesia menerapkan sistem pajak bertingkat berdasarkan jenis produk tembakau dan skala industri. Pada pertengahan 2007, pemerintah mulai memberlakukan cukai spesifik per batang rokok sebagai tambahan terhadap cukai advalorum masing-masing Rp 7 untuk industri besar, Rp 5 (industri sedang), dan Rp 3 untuk industri kecil.
Terhitung 1 Januari 2008, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yaitu meningkatkan tarif cukai spesifik dan menurunkan tarif cukai advalorum. Cukai advalorum menjadi 0-36% dari semula 4-40% sementara cukai spesifik menjadi Rp 35 per batang untuk semua jenis produk dan skala produksi, kecuali rokok kretek tangan (SKT) golongan III sebesar Rp 30 per batang. Disamping cukai advalorum dan cukai spesifik, industri rokok dikenai pajak pertambahan nilai yang besarnya 8,4%. Pendapatan cukai tembakau tahun 2006 adalah Rp 37 triliun yaitu 6% total pendapatan pemerintah atau 9% pajak domestik.
Menurut Widyastuti, peningkatan harga dan cukai merupakan strategi yang efektif dalam pengendalian tembakau. Sebab akan meningkatkan pendapatan sekaligus mengurangi konsumsi rokok. ”Rokok adalah adiktif, sehingga pecandu rokok akan tetap merokok. Sedangkan yang terkurangi adalah masuknya perokok pemula, perokok tidak tetap, remaja, dan perokok miskin,” katanya lagi.
Reh Atemalem Susanti
INDEKS BERITA LAINNYA :
|