Gaya Hidup Versus Fertilitas
Kamis, 07 Agustus 2008 | 17:07 WIB
KORAN TEMPO, Jakarta:Iwan dan istrinya, Fifi, sudah lebih dari 10 tahun menikah, tapi belum juga dikaruniai anak. Kebetulan, keduanya mempunyai porsi tubuh yang luar biasa subur. Sang istri kelebihan berat badan sekitar 15 kilogram, sedangkan Iwan kelebihan bobotnya lebih dari 50 kilogram. Dr Irsal Yan, SpOG mengungkapkan, ada kemungkinan berat badan yang berlebihan ini adalah faktor sulitnya pasangan tersebut memperoleh momongan.
Konsultan spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di Klinik Fertilitas Teratai Rumah Sakit Gading Pluit ini mengungkapkan, gaya hidup menyumbang angka kejadian ketidaksuburan sebesar 15-20 persen. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, sekitar 50-80 juta pasangan usia subur sukar mendapat keturunan dengan penyebab bisa dari pihak suami, istri, atau keduanya ataupun dengan sebab yang tak diketahui. Faktor istri mencakup 45 persen, seperti masalah di saluran telur, ovulasi, endometriosis, mulut rahim, dan rahim.
Faktor suami diperkirakan 40 persen, berupa kelainan pengeluaran sperma, kelainan produksi dan pematangan sperma, penyempitan saluran mani karena adanya infeksi bawaan, faktor imunologi, antisperma, serta faktor gizi. "Tapi ada faktor lain penyebab ketidaksuburan yang hingga kini belum dapat dijelaskan, yaitu mencapai 10-15 persen," Irsal mengungkapkan dalam sebuah konferensi pers, Selasa lalu.
Adapun kondisi ideal untuk mendapat kehamilan, antara lain, hubungan seksual yang normal (2-3 kali seminggu), mulut rahim atau cairan mulut rahim yang baik, saluran telur tidak tersumbat dan berfungsi normal, dinding rahim normal, ada sel telur yang berkembang dan ovulasi, serta sperma dengan jumlah dan kualitas yang baik.
Gaya hidup yang serba cepat dan kompetitif rentan membuat seseorang terkena stres. Kondisi kejiwaan yang tertekan bisa menyebabkan gangguan, seperti gangguan ovulasi, spermatogenesis, serta disfungsi seksual, yaitu menurunnya frekuensi hubungan intim. "Faktor lainnya seperti usia, kegemukan atau terlalu kurus, merokok, kafein, alkohol, obat-obatan tertentu," kata salah satu anggota tim dokter bayi tabung pertama di Indonesia ini.
Kelebihan berat badan pun bisa menyebabkan hambatan dalam hubungan seksual. Pada pria, penumpukan lemak yang berlebihan di daerah pubis sering menyebabkan penis seakan-akan tidak menonjol, kelihatan lebih pendek dan kecil, sehingga menghambat penetrasi.
Tren menunda usia perkawinan demi alasan mengejar karier yang marak belakangan ini juga menjadi salah satu penyebab sulitnya pasutri mendapat momongan. Pasalnya, kesuburan wanita akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia. Sejak usia 35 tahun, kesuburan dan kualitas telur akan beranjak ke posisi yang lebih rendah, merosot drastis di atas usia 37 tahun, hingga akhirnya masuk ke masa menopause di atas 40-45 tahun. Hal ini disebabkan oleh cadangan sel telur yang terus berkurang saat wanita mengalami menstruasi dan lama-kelamaan akan habis sehingga terjadi menopause. "Usia yang optimal itu, ya, 20-30 tahun," kata Irsal.
Berbeda dengan pria. Ia menyebutkan, usia tak membatasi tingkat kesuburan pria. Pasalnya, wanita ketika lahir membawa 300 ribu-400 ribu bakal telur, artinya suatu saat sel telurnya akan habis. Sementara itu, pria memiliki pabrik sperma yang terus memproduksi tiap hari.
Irsal menambahkan, minuman beralkohol yang dikonsumsi wanita juga dapat menekan produksi hormon estrogen dan progesteron serta meningkatkan prolaktin sehingga dapat menghambat terjadinya ovulasi. Pada pria, alkohol akan menyebabkan terjadinya penurunan ukuran testis, menurunkan volume semen/air mani, serta menurunkan konsentrasi, motilitas, dan morfologi normal spermatozoa. Pemakaian obat tertentu, seperti ganja, kokain, dan heroin, oleh wanita juga disinyalir dapat menyebabkan gangguan sekresi gonadotropin dan prolaktin yang berakhir pada terhambatnya ovulasi. Pada pria, obat tersebut dapat menekan sekresi gonadotropin yang menyebabkan menurunnya biosintesis testosteron yang pada akhirnya menurunkan kualitas sperma.
Hati-hati juga dengan olahraga. Berolahraga secara berlebihan juga dapat menyebabkan wanita sulit hamil. Ini disebabkan oleh terganggunya siklus haid, yaitu berupa pemendekan siklus luteal dan amenorhea sekunder. Meski mekanismenya masih belum jelas mengapa olahraga berlebihan membuat wanita sulit hamil, diduga penyebabnya adalah terjadi penurunan produksi gonadotropin serta peningkatan produksi endorfin dan kortisol.
Kapan seseorang dinyatakan kurang subur? Ahli kandungan lain, dr Indra N.C. Anwar, SpOG, mengatakan apabila dalam satu tahun pernikahan suami-istri usia produktif (di bawah 35 tahun) secara teratur melakukan senggama tanpa alat kontrasepsi namun belum hamil juga. Pada prinsipnya, penanganan ketidaksuburan ada dua macam: dengan pengobatan konvensional atau dengan teknologi reproduksi bantuan. Pengobatan konvensional, antara lain, pemberian obat-obatan, seperti untuk menghilangkan faktor penyebab, memicu produksi sperma, memperbaiki pematangan sperma, memperbaiki transpor sel, dan mencegah kerusakan sel sperma.
Gangguan kesuburan karena kelainan anatomi di saluran telur bisa diatasi dengan operasi. Bila tetap gagal, Anda tak usah berkecil hati. "Dengan teknologi reproduksi buatan, bisa mencoba melalui inseminasi atau program bayi tabung," ujar Indra. MARLINA MARIANNA SIAHAAN
Topik :






Komentar Anda :