close

Menyitir Faedah Detoks

Rabu, 07 Januari 2009 | 09:17 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Aktris Hollywood, Demi Moore Kutcher, tampak molek dan bugar dalam acara The Late Show with David Letterman pertengahan tahun lalu. Dengan menggerai rambut panjangnya sampai bahu dipadu gaun merah menyala sebatas lutut, aktris utama Ghost itu seperti bukan kelahiran 46 tahun silam.

“Anda terlihat cantik seperti dulu, bahkan sekarang tampak lebih cantik,” ujar Letterman sambil menunjukkan sampul depan majalah Bazaar bergambar bintang tamunya itu. Kemudian aktris yang dulunya tersohor dengan rambut bondolnya itu menimpali bahwa dirinya adalah perempuan yang mencari kesehatan yang optimal.

Untuk itu, ia rela melanglang ke Austria untuk menjalani terapi detoksifikasi memakai lintah demi kesehatannya. “Yang dipakai bukan lintah rawa. Binatang itu sudah sangat terlatih secara medis,” ujarnya. Dan Moore mengaku tidak waswas akan terapi ini. Sepengetahuannya, lintah telah difungsikan buat pengobatan selama berabad-abad, dan kini pun kerap digunakan dalam pembedahan rekonstruksi. Memang, pada abad ke-18, orang benua biru menggunakan lintah untuk mengisap darah racun dan kaidah ini masih diterapkan hingga sekarang.

Dalam terapi, Moore membiarkan lintah itu menggigit kulitnya. Lalu, binatang tersebut melepas enzim detoks. “Ini benar-benar membersihkan darah Anda. Memang ada darah yang keluar saat digigit, tetapi kesehatan Anda pasti membaik, dan saya merasa lebih bersih saat ini,” ujarnya yakin.

Namun, belum lama ini pendapat Moore itu dibantah ahli biofisika Dr Daniella Muallem. Menurut Muallem, memang tubuh saat didetoksifikasi mengeluarkan racun. “Walaupun darah Anda mengandung racun, dengan mengeluarkannya sedikit bukan pertanda menjadi baik,” ujarnya.

Senada dengan Muallem, ahli patologi Profesor Sir Collin Berry menjelaskan, lintah menggunakan jenis enzim heparin untuk mengeluarkan darah beku dari sistem tubuh-dengan enzim ini yang memecahnya. “Seperti saat dokter melakukan injeksi. Namun, bedanya, lintah tidak tahu berapa banyak yang harus disuntikan,” ujarnya. Berry malah menyarankan, jika cuma ingin kehilangan sedikit darah, lebih baik menjadi donor darah saja. “Anda bisa menolong sesama walau dalam pikiran Anda cuma ingin menolong diri sendiri,” ia menambahkan.

Bukan cuma Moore yang keranjingan terapi detoks. Penyabet gelar aktris terbaik Academy Awards lewat Shakespeare in Love, Gwyneth Kate Paltrow, tidak mau ketinggalan berdetoks ria. Istri vokalis band Coldplay itu memilih jenis diet detoks buat menurunkan bobot badannya.

“Anda bisa terus sambil makan selama menghindari bahan makanan yang mengganggu proses detoksifikasi,” ujar Paltrow. Dengan pola ini, ia menghindari produk susu, daging, kerang, semua makanan olahan, kacang, kentang, gula, alkohol, dan kafein. Nah, sebelum menjalani detoks ini, ia mengaku terlebih dulu berkonsultasi dengan ahli detoks.

Pengisi acara masak populer di TV, Delia Smith, juga memilih detoks dengan hanya mencomot makanan tertentu. Smith menghindari yang manis-manis. Ia berfilosofi, setelah enam minggu tanpa gula, semuanya akan terasa manis. Karena orang bakal mendapatkan kembali cita rasa dari apa yang telah dibuat alam.

Sayangnya, diet menghindari gula ini belum bisa diterima para ilmuwan. Salah satunya Lisa Miles, ahli nutrisi Yayasan Nutrisi Inggris. Dia mengatakan seseorang tidak akan pernah bisa membuang gula dari makanannya, bahkan tidak ingin melakukannya. “Anda mengkonsumsi gula alami di banyak makanan, seperti buah dan susu, yang kami tetapkan sebagai nutrisi penting,” ujar Miles.

Hal serupa dilontarkan Wendy Doyle, ahli gizi dari Asosiasi Diet Inggris. Dia menyatakan belum ditemukan bukti kalau mengkonsumsi makanan tertentu bakal mengeluarkan racun dari tubuh. “Selama hati dan ginjal masih berfungsi baik, tubuh akan melakukan detoksifikasi dengan sendirinya,” Doyle menegaskan. Organ yang berfungsi sebagai mengolah racun dalam tubuh hingga siap dibuang memang hati.

Lebih jauh, di negeri Ratu Elizabeth, Lembaga Publik Independen Sense About Science menyatakan, sebetulnya sudah mencium gelagat buruk gaya hidup para artis Hollywood tersebut. Mereka waswas tren detoksifikasi bakal ini merembet ke khalayak luas. Apalagi di pasar ada sejumlah produk yang mengklaim bisa untuk detoksifikasi. Para ilmuwan mengingatkan, tidak ada bukti produk detoksifikasi itu membantu tubuh menjadi lebih sehat. Ada sekitar 15 produk detoksifikasi dibahas lembaga tersebut, dari produk air dalam kemasan sampai pembersih muka, namun ternyata hasilnya tidak memberi manfaat lebih.

Bahkan ditemukan, beberapa produk detoks berefek berbahaya. Tom Wells, ahli kimia yang ambil bagian dalam riset, mengatakan, “Nilai minimum dari produk detoks seharusnya bisa menawarkan pengertian jelas apakah produk mereka benar-benar bekerja.”

Adapun diet detoks sebetulnya bertujuan membersihkan usus dan memperbaiki sistem pembuangan tubuh dari racun yang masuk ke tubuh lewat makanan. Atas dasar itu, pelaku diet disarankan hanya makan sayur dan buah atau produk organik nabati.

Namun, dikhawatirkan diet ini membuat seseorang kekurangan vitamin dan mineral yang ujung-ujungnya memicu kerusakan otot serta menurunkan tekanan darah dan kadar gula darah secara drastis. Belum lagi pelaku diet bakal kekurangan kalsium hampir 50 persen yang diasup dari produk susu. Hal itu jelas akan menurunkan sistem imun tubuh dan kemampuan tubuh melawan kuman jahat.

Substansinya, detoksifikasi itu adalah perubahan gaya hidup dan pola makan, seperti detoks ala nabi dengan cara berpuasa. Bukan hanya para rasul, seperti Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa, yang gemar berpuasa. Cendekiawan Socrates dan Plato pun melakukan puasa demi menjaga kesehatan dan mempertajam daya pikir mereka.

Untuk itu, cerdiklah memilah terapi seperti apa yang cocok buat kesehatan Anda. Apakah seperti artis Hollywood atau para cendekiawan?

HERU TRIYONO | BBC | FEMALEFIRST |


Agar Racun Terusir

- Perbanyak makan buah-buahan dan sayuran.
- Perbanyak minum air putih.
- Hindari rokok dan minuman beralkohol.
- Tidak menggunakan obat secara berlebihan.
- Lakukan olahraga rutin.
- Sesekali berpuasa.

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan