close

Pentingnya Sahabat Perempuan

Senin, 09 November 2009 | 07:41 WIB

TEMPO Interaktif, Prihandi, 26 tahun, menggeleng-gelengkan kepala karena heran. Dalam sebuah reuni sekolah menengah atas, teman-teman perempuannya pergi ke kamar mandi bersama. "Kenapa ke kamar mandi saja harus beramai-ramai?" tanya lelaki yang berprofesi sebagai staf legal ini.

Lain waktu ia bingung melihat tagihan telepon adik perempuannya membengkak akibat terlalu sering ngobrol dengan teman-teman perempuannya. "Apa sih yang diomongin di telepon sampai berjam-jam?" lagi-lagi ia bertanya.

Untuk soal ini, sosiolog dari Universitas Indonesia, Evelyn Sulaeman, punya jawabannya: itu adalah salah satu keunikan dari persahabatan perempuan. "Ketika seorang perempuan bersahabat dengan perempuan lain, mereka menciptakan ikatan," kata Evelyn dalam peluncuran komunitas Dove Sisterhood di Jakarta, Oktober lalu.

Tanpa sadar, ikatan itu muncul dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghabiskan waktu untuk ngobrol berjam-jam atau melakukan hal-hal sepele bersama-sama.
Perempuan memiliki kebutuhan akan ikatan emosional yang besar. Kebutuhan ini muncul sejak masa anak-anak dan meningkat ketika remaja. Karena itu, remaja putri sering menghabiskan waktunya bersama teman-teman perempuannya. Lalu ketika menginjak dewasa, hubungannya dengan sang ibu pun menjadi lebih dekat.

"Ketika bersahabat, perempuan mencari dukungan emosi dan identitas," kata Evelyn. Bersama perempuan lainnya, mereka dapat tukar pikiran atau perasaan. Secara psikologis, perempuan mendapatkan kepercayaan diri dan kebahagiaan dengan berbagi. "Dalam hal ini, hubungan antarperempuan lebih dari saling tergantung, yakni bekerja sama untuk saling memperkaya dan mengembangkan potensi masing-masing," kata Evelyn.

Ketika mempunyai masalah, perempuan cenderung bercerita dengan sahabatnya untuk tahu perasaan mereka sebenarnya. Itu berbeda dengan lelaki. "Lelaki tak akan cerita ke hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti kesulitannya, kalau tidak terlalu dekat," kata Evelyn. "Biasanya lelaki bersahabat karena kesamaan pekerjaan atau hobi," katanya menambahkan.

Secara fisik, persahabatan antarperempuan ini juga bermanfaat. Kepuasan, kepercayaan diri, dan kebahagiaan yang didapat dengan berbagi akan berpengaruh ke fisik, seperti menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, serta meningkatkan kekebalan tubuh. Apalagi jika persahabatan ini berlanjut ke hal-hal positif, seperti fitness bersama.

Tetapi persahabatan perempuan jangka panjang agak sulit didapat belakangan ini. "Orang bisa berubah. Pekerjaan, kewajiban rumah tangga, keluarga, dan jarak sering kali memutus persahabatan perempuan," kata Evelyn. Ada kerenggangan yang akan menyebabkan ikatan emosional terputus. Pada beberapa kasus, kadang kala konflik dan iri hati juga dapat menghancurkan persahabatan.

Kalau sudah begini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan: menerima persahabatan sudah berakhir, mencari sahabat baru, atau memperbaikinya dengan mengontak kembali. "Bisa dengan telepon, e-mail, atau SMS. Ini kan era digital, jarak seharusnya tak jadi masalah," tutur Evelyn.

Berikan pula sedikit waktu. Beberapa persahabatan hanya membutuhkan waktu untuk memahami persepsi dan perbedaan yang muncul. Jangan pula ragu meminta maaf. Rugi bila persahabatan berakhir hanya karena kesalahpahaman kecil atau konflik yang tak berarti.


TIP BERSAHABAT

1. Luangkan waktu seperti ngobrol sambil minum kopi sepulang kerja, belanja, atau fitness bersama.
2. Jadilah teman yang baik. Hindari sifat buruk seperti hanya bicara tentang diri sendiri, tak mendengarkan yang lain, atau memanfaatkan teman semata.
3. Menerima perbedaan pendapat. Ada kalanya kita tak sepaham dengan teman-teman. Tapi tak berarti persahabatan harus berakhir. Saling menghargai adalah kuncinya.
4. Kenali persahabatan yang merugikan, seperti teman yang selalu merendahkan atau mengambil keuntungan pribadi. Kalau itu terjadi, cari teman lain saja.

AMANDRA MUSTIKA M
 

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan