close

Tuberkolusis di Sekeliling Kita

Selasa, 10 November 2009 | 07:35 WIB

TEMPO Interaktif, Sudah tiga dokter disambangi Arnold buat memulihkan batuk parahnya. Dari dokter umum hingga dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan, semuanya tak kunjung berhasil. 

Baru setelah ditangani spesialis paru, karyawan sebuah perusahaan swasta itu menemukan titik terang. Dokter Rumah Sakit Umum Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, mendiagnosis Arnold menderita tuberkulosis (TB) paru. Pria 27 tahun ini mesti dirawat selama tiga pekan.

Selama dirawat, dia diberi obat injeksi dan oral. Kemudian saat rawat jalan, dokter memberinya obat TB oral dengan dua kombinasi, yakni INH (isoniazid) dan Rifampisin. Tiga bulan setelah terapi, Arnold sudah baikan. Namun, obat-obat yang diminum sehari tiga kali itu belum habis. "Semakin lama, dosis semakin berkurang," kata Arnold, seperti disampaikan dokternya.

Bukan perkara mudah bagi klinisi mengobati pasien TB. Sebelumnya mesti ada validasi terlebih dulu dari laboratorium. Begitu juga dalam kasus Arnold. Arnold memeriksakan paru-parunya di sebuah laboratorium di daerah Menteng sebagai rujukan dokter-dokter yang menanganinya. "Cek lab itu dilakukan setelah beberapa kali salah diagnosis oleh dokter," Arnold menceritakan.

Memang, menurut Dr Nasrum Massi, dengan tes laboratorium, akurasi penanganan pasien TB jadi tepat sasaran. "Tes lab dengan gold standar bisa melihat apakah obat yang diberikan masih berfungsi atau tidak," ujar kepala diagnosis TB dari laboratorium Novartis, Eijkman Institut and Hasanuddin University Clinical Research Initiative (NEHCRI) Makassar itu di sela simposium internasional mengenai demam berdarah dan tuberkulosis di Makassar beberapa waktu lalu.

Untuk melihat seseorang menderita TB atau tidak, proses lab-nya memang cukup rumit. Dijelaskan Nasrum, mulanya orang itu diperiksa dahaknya. Dahak ini dibersihkan dengan satu zat kimia yang membunuh kuman lain, tetapi tidak membunuh kuman TB. Setelah itu, baru dilakukan pemeriksaan smear. Seperti pemeriksaan mikroskop untuk melihat apakah ada gambaran kuman TB atau tidak. "Itu yang tidak dilakukan di puskesmas," ujar dosen mikrobiologi di Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Namun, dalam tahapan itu, kuman belum dimunculkan hidup, melainkan dalam bentuk mati. Selanjutnya kuman dikultur, artinya ditumbuhkan dengan makanan. Kemudian dilihat apakah itu kuman TB atau kuman lain. Setelah diketahui pasti ada kuman TB, dilakukan tes apakah kuman TB ini yang menyebabkan resistensi obat TB yang umum dipakai.

Resistensi obat TB, atau dikenal dengan multi-drug resistant (MDR), yang berkembang adalah pada obat TB isoniazid atau INH dan rifampisin. Dua obat itu adalah bagian dari empat kombinasi obat TB. Dua lainnya adalah etambutol dan streptomisin. Menurut Nasrum, apabila dua dari empat obat itu sudah tidak berfungsi, klinisi harus memberi obat lini kedua. "Obatnya jenis injeksi, seperti kuinolon, sikloserin, kanamisin, kapriomisin," Nasrum memaparkan.

Masalahnya, banyak kasus menunjukkan pemeriksaan pada pasien tidak utuh sehingga klinisi tidak tahu obat yang diberikan berfungsi atau tidak. Ada pasien yang dikira sudah sembuh lalu dilepas hingga akhirnya menyebar ke orang lain. "Padahal radius 1 meter orang lain bisa tertular TB," peneliti TB dari NEHCRI, Dr Sitti Wahyuni, menimpali dalam acara yang sama.

Malah, seperti diceritakan Nasrum, ada pasien yang bertahun-tahun tidak sembuh langsung dikasih obat TB lini kedua. "Padahal lini kedua banyak efek sampingnya, seperti terhadap ginjal dan hati. Bisa pula membunuh kuman lain yang justru bermanfaat bagi tubuh," ujar Sitti.

Selain itu, dampak lainnya, menurut Sitti, adalah semakin merebaknya MDR TB di tengah populasi. "Apalagi kecepatan kuman TB beradaptasi untuk resistan tidak disertai dengan kecepatan manusia menghasilkan obat baru," Profesor Irawan Yusuf, Dekan Fakultas Kedokteran UNHAS, menambahkan.

Indonesia menduduki peringkat ketiga dari daftar 22 negara dengan kasus TB tertinggi di dunia dengan jumlah 244 kasus pada setiap 100 ribu orang.


Testimoni Pasien TB

1. Arnold, 27 tahun (Terapi obat TB 3 bulan, Pasien TB Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia, Jakarta).

Dokter melihat faktor risikonya bahwa dia sering memakai jaket dengan kaus basah di dalamnya. Sering begadang dan aktif merokok. Ditambah naik motor di malam hari dan lingkungan yang tidak bersih. Arnold dinyatakan sembuh pada akhir tahun lalu.

2. Wahyu, 25 tahun (Terapi obat TB 6 bulan, Pasien gejala TB Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta).

Dokter melihat faktor risikonya bahwa dia sering begadang dan tidur di lantai. Selain itu, dia sudah memiliki bawaan flek paru semenjak kecil. Juga merupakan perokok berat. Diindikasi dia tertular dari teman di lingkungan dia bergaul. Wahyu dinyatakan sembuh pada 2007.

HERU TRIYONO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan