Panjang Umur Lewat Analisis DNA
Kamis, 19 November 2009 | 07:32 WIB
TEMPO Interaktif, Di serial televisi CSI, para penegak hukum dikisahkan dapat menemukan pelaku kejahatan melalui DNA yang tertinggal di tempat kejadian perkara. Atau pada kisah nyata, jenazah teroris Noor Din M. Top, yang tewas pada September lalu, pun bisa dipastikan identitasnya melalui tes DNA. Selama ini DNA memang kerap digunakan untuk mengidentifikasi identitas seseorang.
Sebetulnya fungsi uji DNA bukan hanya itu.
Dunia kedokteran telah berulang kali menggunakan DNA sebagai dasar penyembuhan dan diagnosis penyakit. Baru-baru ini Dr Justin Hao, dari President of the Asia Academy of Anti-Aging and Aesthetic Medicine Asia-Pacific, menggunakan analisis DNA untuk mendiagnosis penurunan fungsi fisik dan penuaan yang dialami pasiennya.
DNA adalah kependekan dari deoxyribonucleic acid--molekul yang membawa kode genetik organisme. Dokter asal Swiss, Friedrich Mischer, pertama kali mengambil DNA pada 1869. Lalu penemuan ini dikembangkan oleh beberapa dokter, hingga Francis Crick dan James Watson--peraih Nobel pada 1962--menemukan struktur DNA.
Menurut Hao, pada usia 30 tahun, manusia akan mengalami kemunduran fisik sekitar 1 persen per tahun. Karena itu, ketika manusia mencapai usia 60 tahun, telah terjadi penurunan fisik sebesar 30 persen.
The American Journal of Clinical Reports melaporkan, sebanyak 30 persen manusia di atas 65 tahun tidak dapat menyerap vitamin dan mineral secara efektif. Sistem tubuh mereka mengalami malfungsi. Pola hidup buruk, ketidakseimbangan nutrisi, unsur kimia, dan pengaruh hormon menjadi masalah utama menuju penuaan dini serta penyakit kronis.
Proses kemunduran fisik dan penuaan itu sebenarnya dapat dihambat hingga 0,4 persen per tahun melalui olahraga, makanan bergizi, terapi hormon, hingga intervensi estetika. Tapi tidak semuanya efektif. Beberapa orang dengan gaya hidup sehat pun masih terdiagnosis mengalami penyakit-penyakit akut akibat penuaan.
Ada orang yang mengalami kadar gula dalam darah terlalu tinggi, namun pada orang lain hal itu merupakan kadar normal. "Ada pula yang kekurangan kalsium, meski sudah cukup mengkonsumsi kalsium," kata Hao dalam seminar Teknologi Anti-Aging di Laboratorium Prodia, Sabtu pekan lalu.
Ini, ia melanjutkan, disebabkan oleh unsur kimia, magnet, dan unsur hereditas dalam diri seseorang berbeda-beda. Karena itu, pada beberapa orang, perawatan guna menghambat penurunan fungsi fisik berbeda-beda.
Hao mendiagnosis 255 pasiennya dalam kurun waktu enam bulan, mulai Oktober 2007, menggunakan analisis DNA rambut. Hasilnya, tingkat keakuratan mencapai 83 persen. "Ketika kita sakit, meski medical checkup menunjukkan hasil normal, analisis indeks DNA rambut akan membantu menemukan sumber masalah sebenarnya," kata dokter asal Taiwan itu.
Hao hanya membutuhkan lima helai rambut untuk menganalisis indeks DNA pasien. Rambut akan memberikan informasi magnetik, kimia, dan hereditas yang ada dalam tubuh semenjak lahir. "Perlu diingat bahwa analisis indeks DNA rambut bukan diagnosis awal," kata Hao.
Analisis awal, menurut dia, hanya berfungsi mengidentifikasi penurunan fisik potensial dalam tubuh pasien, berdasarkan akumulasi racun dalam tubuh, sikap mental, ketidakseimbangan nutrisi, hereditas, dan kelainan tulang belakang.
Hao mengatakan selama ini teknologi yang disebut holomedicine ini sudah banyak dilakukan di Amerika Utara dan beberapa negara Eropa. Di Indonesia, teknologi holomedicine untuk mengetahui analisis indeks DNA rambut memang belum ada.
Namun, beberapa perusahaan Taiwan mulai menawarkan fasilitas tersebut. Dengan biaya Rp 3 juta, lima helai rambut yang tidak terkontaminasi akan dikirim ke Taiwan. "Hasilnya akan diberikan dalam kurun 1 minggu," kata Kenneth Mau, dari Well Gene Science Inc.
Pada dasarnya, penuaan dan penurunan fisik dapat ditunda. Selain melalui analisis DNA, dunia kedokteran antiaging juga mengembangkan terapi ozon, stem cell, dan akupunktur sebagai upaya mencegah penuaan dini. "Dengan perkembangan teknologi kedokteran antiaging, kami berharap usia harapan hidup menjadi lebih panjang dengan kualitas hidup yang baik," kata Dr Suhantoro, Ketua Association of Indonesian Medical Anti-Aging & Aesthetic, dalam sambutannya.
FAKTA MENARIK DNA
1. Orang utan memiliki 96,4 persen DNA manusia.
2. Bila semua DNA yang ada dalam sel-sel tubuh kita dibuka, kita bisa mencapai bulan 6.000 kali.
3. Sebanyak 99 persen dari rangkaian DNA seseorang sama dengan orang lain.
4. Sel telur dan sel sperma seseorang memiliki setengah dari total DNA orang tersebut.
5. Semua sel dalam tubuh manusia memiliki DNA, kecuali sel darah merah.
AMANDRA MM | berbagai sumber





Komentar Anda :