Mutiara dari Tanah Arab
Selasa, 06 Februari 2007 | 18:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: "Saya percaya membantu anak-anak adalah insting dasar manusia." Kalimat ini meluncur dari Ratu Rania, istri Raja Abdullah II dari Yordania saat pertama kali didapuk menjadi penyokong utama badan dunia yang menangani masalah anak (UNICEF), Januari lalu. Perjuangan Ratu nan ayu ini memang tak tanggung-tanggung dalam menangani berbagai masalah yang membelit kaum perempuan dan anak-anak di seluruh dunia.
Ratu Rania dengan lantang meminta sanitasi dan imunisasi yang baik agar tak ada lagi kematian pada anak. Perempuan berusia 37 tahun itu pun aktif dalam berbagai kegiatan berskala internasional seperti yang baru-baru ini dilakukannya yaitu memimpin penjurian Forum of Young Global Leaders yang diadakan World Economic Forum. "Pemimpin-pemimpin yang muncul hari ini, perlu menempa semangat kebersamaan sebagai permulaan proses perubahan," kata lulusan administrasi bisnis dari American University di Kairo ini.
Meski mendapat banyak tugas dan gelar, Ratu Rania tetaplah seorang wanita yang rendah hati. "Ini adalah jabatan yang tinggi," katanya saat didapuk menjadi penyokong utama UNICEF. Sebagai seorang pendamping raja, Rania juga sangat rendah hati. Dia mengatakan, tugasnya sebagai pendamping raja adalah bersama-sama memperbaiki standar hidup masyarakat Yordania. Tentu saja dengan tetap mempertahankan tradisi Yordania menuju masyarakat sipil yang modern.
Rania dan Abdullah dikaruniai 4 orang anak, Hussein (lahir 1994), Iman (1996), Salma (2000), dan Hashem (2005). Sebagai seorang ibu yang sibuk mengurusi keluarga, Rania juga tak pernah melupakan urusan religiusnya. Sebagai seorang muslim, Rania bahkan giat memberikan pengertian tentang Islam pada negara-negara barat.
Dalam sebuah wawancara dengan Oprah, Rania mengatakan banyak orang salah persepsi tentang dunia Islam. "Islam adalah agama yang toleran, berbuat untuk kebaikan, memahami perbedaan, dan kualitas manusia," katanya. Soal perempuan muslim yang tak mengenakan kerudung, Rania mengungkapkan itu semua adalah pilihan pribadinya. Menurutnya, negara tak seharusnya mengatur dan mencampuri masalah kepercayaan individu-individu. "Itu adalah pilihan pribadinya," katanya.
Meski banyak tugas yang kini dipikul Rania, mengutip majalah Time, pemilik nama asli Rania Al Yasin ini mengatakan tak ada tugas yang terlalu sulit untuk menjadi teladan bagi wanita muda Arab atau juru bicara mereka. Rania boleh jadi menjadi potret baru almarhum Putri Diana, perempuan yang berada di kalangan kerajaan tapi tak segan-segan menjadi seorang aktivis kemanusiaan.
berbagai sumber/martha




