Koleksi Cokelat Bergaun Adibusana

Jum'at, 29 Agustus 2008 | 11:06 WIB



TEMPO Interaktif, Jakarta: Cokelat boleh dibilang punya seribu sisi. Dari sisi psikologis, potongan-potongan camilan mengandung flavonoid ini akan menyemburkan rasa senang dan tenang. Namun, hati-hati bila campuran gulanya tergolong tinggi, bisa membuat berat badan terkerek naik. Meski begitu, cokelat juga menjadi lambang cinta antara dua insan yang terlibat asmara. Bagi si kecil, cokelat adalah sebuah kenikmatan. Nah, bagi yang maniak cokelat, produk dari buah kakao ini terkait juga dengan mode.

Cokelat ditampilkan dengan indah, seperti yang dihadirkan di The Chocolate Boutique, Hotel Mulia, Senayan. Arena khusus cokelat ini menyuguhkan konsep baru dengan menggunakan istilah mode haute couture atau adibusana. Pilihannya berupa praline, pernak-pernik fashion, binatang-binatang lucu, dan bentuk menarik lain. "Kami sengaja merancang tempat ini menjadi butik cokelat untuk memanjakan para penggila cokelat. Sensasinya bukan melulu urusan perut, tapi, seperti halnya mode, ada sensasi kepuasan yang tidak terucapkan oleh kata-kata," kata Richard P. Appelbaum, manajer hotel itu.

Richard menyatakan beberapa benda cantik dari cokelat di tempatnya terlalu manis untuk dimakan. Lantas, sejumlah tamu hotel pun membeli cokelat untuk dijadikan benda koleksi, bukan sekadar pemuas lidah. Dengan kemewahan ala haute couture, di sini dihadirkan Mimi atau Madaemoiselle Mulia 2008. Muncul melalui ikon berupa tikus cantik dari cokelat yang dirancang penuh gaya seperti yang lazim dipertontonkan dunia mode internasional.

Tampil dalam beragam bentuk patung cokelat, setiap Mimi tampil bergaya dengan balutan gaun adibusana nan mewah yang dirancang dengan inspirasi dari rumah-rumah mode kenamaan Paris, seperti Givenchy, Pierre Balmain, Chanel, Christian Lacroix, Jean Paul Gaultier, Yves Saint Laurent, Christian Dior, dan Emanuel Ungaro.

Suasana area butik pun serasa Kota Paris, seperti replika cokelat Menara Eiffel dengan warna-warni yang cerah. Adapun tema Paris dipilih lantaran kota ini dianggap sebagai kiblat mode yang menjadi asal-muasal adibusana serta sumber inspirasi perancang dunia. Penampilan kemewahan butik cokelat ini mendapat pujian Neiman Marcus, penghias etalase asal Amerika Serikat. Neiman tidak henti-hentinya memuji karya Cydney Griggs dari California, yang menangani proyek tersebut. Neiman terkesan dengan ide awal konsep ini setelah memperhatikan karakter bintang Hollywood, Audrey Hepburn, pada film musikalnya, Funny Face, yang meledak pada 1957. Perannya sebagai penjaga toko buku membuatnya terkenal serta dijadikan ikon dan megabintang di dunia fashion. "Saya berharap menyaksikan penampilan Mimi di sini akan mengingatkan orang pada hal yang sama," ujarnya.

Penampilan Mimi nan mewah itu telah membuat jatuh cinta para pengunjung, di antaranya Teressa. Dari niat sekadar bertemu teman, perempuan yang biasa dipanggil Tessa ini langsung jatuh cinta saat menyaksikan gaya adibusana si Mimi. "Masih berpikir dan bicara ke suami dulu apakah membeli atau cukup mengamati dari dekat," ujarnya, kemudian berbisik, "apalagi harganya di atas Rp 5 juta."

Kendati tidak persis sama, butik L'atelier Du Chocolat di lantai dasar Hotel Grand Hyatt dan Plaza Indonesia pun sesekali sering menyajikan cokelat unik. Biasanya butik ini mengusungnya pada momen khusus, seperti Hari Kasih Sayang. Salah satunya adalah koleksi gaun mahal perancang kondang dari cokelat. Menurut Rista, salah seorang pelayan tempat ini, koleksi yang berbau mode memang sesekali ada. "Biasanya tergantung pesanan dan bukan untuk dimakan, hanya untuk koleksi," ucapnya.

Bahan baku cokelat didatangkan dari Prancis. Pengerjaannya pun cukup detail dan sulit. Karena itu, harga cokelat bergaya mode selangit. "Waktu pengerjaannya bisa dua sampai empat minggu. Daya tahan cokelatnya, bila untuk koleksi atau pajangan, bisa sampai setahun, asalkan berada di tempat dingin dan tidak langsung terkena sinar," dia menjelaskan. Nah, Anda siap mengoleksi cokelat seperti ini?

HADRIANI P

Topik :






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: