|
Luar Negeri
Militer Filipina Bom Dulmatin
Sabtu, 29 Januari 2005 | 09:56 WIB
TEMPO Interaktif, Cotabato: Pesawat tempur dan helikopter militer Filipina menggempur kawasan Maguindanao, wilayah selatan yang disebut-sebut sebagai tempat persembunyian "teroris", pada Kamis (27/1). Dulmatin alias Joko Pitono, warga negara Indonesia tersangka kasus bom Bali 12 Oktober 2002, diyakini tewas dalam serangan ini.
Dulmatin dan dua warga Indonesia yang diidentifikasikan sebagai Maruan dan Mauyha dikabarkan sedang bertemu dengan para anggota kelompok Abu Sayyaf pimpinan Khaddafy Janjalani ketika dibom. Dua pesawat tempur menjatuhkan bom-bom seberat 250 pon, sementara dua helikopter menembakkan sejumlah roket ke enam rumah yang dicurigai.
"Ada enam target kami di sana. Semua hancur kena bom," kata Kolonel Domingo Tutaan, staf Komando Angkatan Bersenjata Wilayah Selatan, seperti dikutip situs Philippine Star, kemarin. Blokade di laut juga dilakukan untuk mencegah para tersangka melarikan diri.
Setelah dinyatakan terlibat kasus bom Bali yang menewaskan 202 orang, Dulmatin lolos dari kejaran polisi Indonesia. Menurut Ali Imron, terpidana seumur hidup pada kasus yang sama, Dulmatin bertugas meracik dan merakit bom berbahan antara lain potasium florat, belerang, dan bubuk aluminium.
Dulmatin dikenal sebagai pria kurus dengan tinggi badan 174 sentimeter. Ia lahir di Desa Petarukan, Pemalang, pada 1970, sebagai anak keempat dari lima bersaudara putra pasangan Usman (almarhum) dan Masriyati, 62 tahun. Semasa di SMP, Dulmatin tinggal di rumah Haji Sofi, kakeknya, di sebuah perkampungan Arab di Pemalang.
Ia dikenal pintar. Sejak di SD, ia selalu berada di peringkat satu. Di SMP, kata gurunya, Joko Pitono muda selalu mendapat nilai 8,5 untuk pelajaran elektro dan 9 untuk matematika. Prestasinya itu dilanjutkan hingga SMA. Setamat SMA pada 1992, Dulmatin merantau ke Malaysia. Pada 1995, ia pulang dan bekerja sebagai makelar mobil dan bertani. Ia juga mengganti namanya menjadi Amar Usman. Nama Usman diambilnya dari nama ayahnya yang telah tiada.
Menurut Letnan Jenderal Alberto Braganza, Komandan Angkatan Bersenjata Filipina Wilayah Selatan, sejumlah pemimpin Abu Sayyaf juga tewas dalam serangan ini, yakni Abu Solaiman dan Isnilon Hapilon serta Abdul Wahid Tondok.
Tentang penggunaan pesawat tempur dan helikopter, militer Filipina menyatakan bahwa lokasi target sulit dimasuki dengan jalan darat. Braganza mengaku memerintahkan serangan udara setelah pasukan di darat memastikan Tondok dan orang-orangnya berada di wilayah itu. "Angkatan udara menjatuhkan bom ke lokasi sejak pukul 10.00."
Situs Boston.com memberitakan, pengejaran empat warga Indonesia di kawasan Filipina selatan telah berlangsung sejak pekan lalu. Mengutip sumber intelijen, situs itu menyebutkan, selain Dulmatin, Umar Patek termasuk dalam kelompok buruan ini. Umar juga merupakan tersangka bom Bali.
Amerika Serikat disebut-sebut terlibat dalam operasi ini, dengan memberikan informasi intelijen kepada pemerintah Filipina. Sebelumnya, Direktur International Crisis Group Sidney Jones menyatakan, Umar dan Dulmatin juga telah menjadi sasaran serangan udara militer Filipina pada 18 November 2004 di Mindanao Tengah.
Bambang Gunawan, juru bicara Konsulat Jenderal RI di Davao yang membawahkan wilayah Mindanao, mengaku belum memperoleh informasi resmi tentang penyerangan ataupun tewasnya Dulmatin. Menurut dia, media massa setempat pun belum memastikan bahwa Dulmatin tewas. "Aparat keamanan belum memberi konfirmasi apa pun," katanya kepada Tempo.
Ia menjelaskan, Maguindanao adalah "wilayah rawan" yang merupakan bagian dari Provinsi Mindanao. Dari Davao, wilayah itu bisa ditempuh dalam lima jam dengan mobil. Ada sekitar 8.000 orang Indonesia di seluruh Mindanao. "Saya sendiri belum pernah ke wilayah itu," katanya.
Kepala Kepolisian RI Jenderal Da'i Bachtiar kemarin mengaku belum mengetahui tewasnya Dulmatin. Ia menyatakan, Dulmatin memang tidak berada di Indonesia. Mantan Direktur Antiteror Brigjen Pranowo menambahkan, Dulmatin sudah melarikan diri ke Filipina pada pertengahan Oktober 2003.
Tentang Azahari dan Noor Din M. Top, dua warga negara Malaysia tersangka utama sejumlah kasus bom di Tanah Air, Da'i menyatakan, mereka masih berada di Indonesia. Ia mencontohkan, polisi pernah menggerebek Azahari di sebuah warung Internet tapi gagal. "Ya, masih di Jawalah," tuturnya.
martha warta/budi s
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Polisi Gegana memeriksa lokasi ledakan bom di Yayasan Kesejahteraan Mahasiswa Iskandar Muda/ asrama mahasiswa Aceh di kawasan Manggarai, 16 Mei 2001. [TEMPO/ Josua Alessandro; K1A/340/2001; 20010530].](/hg/photostock/2005/01/26/s_K1A34006_high_thumb.jpg) |
![Terdakwa kasus peledakan bom di Wisma Bhayangkari, Anang Supena dikawal polisi Provost saat akan mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, 26 Agustus 2003. [TEMPO/ Imam Sukamto; K18A/044/2003; 20030926].](/hg/photostock/2005/01/18/s_K18A04406_high_thumb.jpg) |
| Evakuasi Korban Ledakan Bom YKMIM
|
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|