close

Presiden Bangladesh Caretaker Kabinet

Selasa, 31 Oktober 2006 | 01:32 WIB

TEMPO Interaktif, DHAKA:Hujan peluru dan bebatuan menyapu seantero pusat Kota Bangladesh selama sepekan belakangan ini. Buah dari kisruh politik menjelang pemilihan umum Januari mendatang. Jumat pekan lalu, partai berkuasa, Partai Nasional Bangladesh (BNP), yang mengambil alih kekuasaan pada 2001 berkoalisi dengan partai-partai Islam, berakhir masa kekuasaannya.

Konstitusi Bangladesh menetapkan dalam masa transisi, pemerintah sementara nonpartisan harus mengambil kendali untuk mengemudikan negeri ini menuju pemilihan. Hal itu memicu tokoh BNP dan partai oposisi Liga Awami bersitegang soal siapa yang berhak menjalankan roda pemerintah sementara. Bentrokan tak bisa dihindari. Hasilnya? Sabtu lalu 20 orang tewas dan lebih dari seratus luka-luka.

Presiden Iajuddin Ahmed pun kemarin turun tangan. Ia mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin kabinet sementara--perdana menteri menggantikan Khaleda Zia yang disokong BNP dan aliansi partai Islam. Lewat siaran televisi nasional ia meminta rakyat tenang. Tentara disiagakan penuh untuk mengantisipasi pertumpahan darah lanjutan.

"Saya minta semua pihak, dengan mengabaikan kepentingan partai, menjaga perdamaian dan mematuhi hukum negeri ini!" kata Presiden. Sejatinya pemerintah menunjuk mantan Ketua Mahkamah Agung K.M. Hasan sebagai perdana menteri sementara. Tapi ia mundur setelah Liga Awami menuduhnya sebagai kaki-tangan pemerintah dan mengirim para pendukungnya ke jalan-jalan.

Setelah menolak Hasan, kini giliran Liga Awami menolak Ahmed. Pemimpin senior Liga, Amir Hossain Amu, meminta Presiden memberikan segala kemungkinan secara konstitusional sebelum mengambil alih kekuasaan. "Kami tak menerima dia (Presiden) atau menolak dia sebagai perdana menteri sementara," ujar Amir. "Tapi kami akan mengawasi tugas-tugasnya."

Liga juga mendesak Presiden mencopot tiga pejabat Komisi Pemilihan Umum. Maklum, di mata partai oposisi terbesar Bangladesh itu ketiganya dipandang propemerintah. "Mereka itu bias!" ujar Amir. "Presiden sebaiknya membuat daftar calon pemilih yang baru karena ada 10 juta calon pemilih siluman." Sejauh ini Presiden meminta kalangan partai mencari calon caretaker kabinet.

Menurut Ajai Sahni, Direktur Institut Manajemen Konflik di New Delhi, kekisruhan itu konon dipicu perseteruan pribadi antara pemimpin BNP Khaleda Zia dan Syekh Hasina, Presiden Liga Awami. Maklum, mereka bergantian memimpin salah satu negeri termiskin di dunia ini sejak 1991, tapi tak saling bertegur sapa selama bertahun-tahun.

Perseteruan inilah barangkali yang menyebabkan mengapa ekonom dan peraih Nobel Perdamaian Muhammad Yunus berkeinginan mendirikan partai alternatif baru.

l AP | AFP | BBC | CSMONITOR | ANDREE PRIYANTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan