Serang Pesantren Militer Diprotes
Rabu, 01 November 2006 | 03:36 WIB
TEMPO Interaktif, ISLAMABAD:Lebih dari 2.000 penduduk Selasa (30/10) kemarin menggelar aksi protes terhadap serangan militer Pakistan ke sebuah pesantren di Distrik Bajaur, di perbatasan Pakistan dengan Afganistan, yang menewaskan sedikitnya 80 orang.
Aksi protes yang juga diikuti oleh sekelompok militan bersenjata ini berlangsung di barat laut Kota Khar, tak jauh dari lokasi pengeboman.
Militer Pakistan membombardir kawasan yang dihuni sejumlah suku itu Senin (30/10) lalu. Mereka menggunakan helikopter peluncur peluru kendali. Korban tewas rata-rata berumur 20-30 tahun.
Direktur Jenderal Inter-Services Public Relations (Angkatan Bersenjata) Pakistan Mayor Jenderal Shaukat Sultan membenarkan adanya serangan itu. Aksi itu, kata dia, untuk menghabisi para teroris yang sudah lama bersembunyi dan berlatih di sana. Salah satu yang mereka incar adalah Maulvi Liaqat, yang juga ikut tewas dalam serangan itu.
Maulvi, kata Shaukat, sudah lama diburu militer Pakistan. Dia dituduh sebagai pelatih para teroris. "Sudah kami peringatkan dia," ujarnya. "Komitmen pemerintah jelas. Tak boleh ada tindakan subversi dan aktivitas teroris di negeri ini!"
Menurut Shaukat, aksi militer itu didukung penduduk setempat. Namun, para saksi mata, penduduk desa, dan pemimpin agama setempat, membantah klaim Shaukat. Mereka mengatakan rudal-rudal yang meluncur dari lambung helikopter militer Pakistan itu justru menewaskan para santri dan guru tak berdosa.
"Kami akan terus berjihad. Darah harus dibalas dengan darah!" ujar Maulana Roohul Amin, ulama terpandang di sana, lewat corong pengeras suara. "Kami cinta damai, tapi pemerintah menyerang dan membunuh anggota keluarga kami atas perintah Amerika," kata Faqir Mohammed, yang disebut-sebut sebagai kaki-tangan Ayman al-Zawahri, deputi kepala Al-Qaidah.
Di Islamabad, ulama berpengaruh, Qazi Hussain Ahmed, mengutuk Amerika. "Amerika berada di balik serangan ini," ucap pemimpin aliansi enam partai Islam penentang Musharraf. "Pemerintah Pakistan jelas bertanggung jawab karena mereka tahu serangan itu akan memicu perang sipil jika Amerika terbukti mendalangi."
Amerika menampik tudingan Qazi. "Jelas serangan itu dilakukan militer Pakistan," tutur Mayor Matt Hackathorn, juru bicara pasukan militer Amerika di Afganistan.
l APP | BBC | CSMONITOR | ANDREE PRIYANTO




Komentar Anda :