close

Militer Pakistan Siaga Satu

Kamis, 02 November 2006 | 05:53 WIB

TEMPO Interaktif, KHAR:Pasukan Angkatan Bersenjata Pakistan Rabu (1/11) kemarin menetapkan status siaga satu guna mengantisipasi aksi protes nasional yang meluas, termasuk kemungkinan serangan balas dendam kelompok militan.
Militer juga menutup zona perbatasan Pakistan-Afganistan.
Status itu diberlakukan menyusul maraknya aksi demo mengutuk serangan militer ke sebuah madrasah pada Senin lalu. Militer juga mengawal ketat madrasah yang porak-poranda akibat dihujani peluru kendali yang menewaskan sekurangnya 80 santri dan guru itu.

"Kami tak diizinkan keluar-masuk Banjaur," kata Irfanullah, warga setempat, kepada AFP. "Akses kami ditutup rapat!"
Pasar dan sejumlah sekolah di Khar, kota utama di Banjaur, juga tutup. Begitu pula di wilayah tetangga, Mohmand. "Ini semata-mata demi keamanan," kata seorang petinggi militer. Pangeran Charles, yang berencana melongok ke Peshawar, pun urung berangkat. Hingga kemarin, lebih dari 20 ribu pemrotes turun ke jalan-jalan di seantero Pakistan.

Di Karachi, seribu orang pendukung kelompok Islam garis keras membakari bendera Amerika dan memaki-maki Presiden Pervez Musharraf. Sekitar 500 pengunjuk rasa membakar bendera Amerika dan potret Presiden George W. Bush di Multan, Quetta, dan Lahore. "Kami akan menggelar serangkaian aksi bom bunuh diri, segera!" teriak Inayatur Rahman, salah seorang demonstran.

Protes terjadi karena sudah dua kali warga sipil menjadi sasaran serangan. Januari lalu, pesawat Predator Amerika menebar bom di Damadola, dekat Chingai. Sasarannya Ayman al-Zawahri, orang kedua Al-Qaidah. Namun, bukan Al-Zawahri yang terkena, melainkan warga setempat. Sasaran serangan kedua adalah madrasah itu pada Senin lalu. Seorang korban selamat, Abu Bakar, 22 tahun, mengatakan di madrasah itu tak ada teroris.

"Hanya siswa dan guru di sana dan tak ada pelatihan militan," katanya sembari terbaring di dipan rumah sakit di Peshawar. Namun, pemerintah Pakistan menyebutkan madrasah itu dipakai sebagai fasilitas pelatihan militan pendukung Taliban sejak sepekan sebelumnya. "Kami sudah mengawasi mereka selama tujuh hari terakhir," kata Presiden Musharraf. "Kami tahu betul siapa mereka dan apa yang mereka lakukan!"

l AP | APP | AFP | BBC | CBC | ANDREE PRIYANTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan