Irak Kian Mencekam

Selasa, 07 November 2006 | 00:13 WIB

TEMPO Interaktif, Bagdad: Hingga Senin (6/11) kemarin situasi di sejumlah wilayah di Irak masih mencekam seiring pemberlakuan jam malam di Bagdad, Provinsi Diyala, dan Provinsi Salahuddin. Dinihari kemarin militer Amerika mengumumkan tewasnya lima serdadu mereka dan polisi menyebut 72 sipil tewas di seantero Irak.

Di bagian barat Baghdad, markas militer Amerika diberondong senapan mesin. Kondisi itu membuat pihak keamanan memperketat akses ke bandara internasional, mendirikan pos-pos pemeriksaan, dan memperbanyak frekuensi patroli gabungan Irak-Amerika.

Ketatnya pengamanan menyusul datangnya ancaman dari para pendukung mantan presiden Irak Saddam Hussein yang Ahad lalu divonis hukuman mati. Di Tikrit, kampung halaman Saddam, lebih seribuan orang berkumpul sembari membawa foto-foto Pangeran Tikrit itu. Mereka menuding keputusan itu hasil rekayasa Gedung Putih dan mengutuk vonis hukuman mati tersebut.

"Kami siap mengorbankan jiwa raga kami untukmu Saddam!" kata para demonstran. Washington secara tegas membantah tudingan itu. Menurut Tony Snow, juru bicara Presiden George W. Bush, vonis itu murni keputusan pengadilan tinggi Irak.

Kendati begitu dalam sebuah pidato di hadapan pendukungya di Grand Island, Nebraska, Bush menyebut vonis itu sebagai peristiwa penting dalam sejarah Irak. "Ini tonggak bersejarah di tengah upaya rakyat Irak mengubah pemerintahan yang tiran menjadi pemerintahan yang menjunjung tinggi hukum!" kata Bush berapi-api.

Perdana Menteri Nuri al-Maliki kemarin malam melalui siaran televisi menyerukan agar rakyat tenang. Ia meminta warganya mensyukuri vonis mati itu tanpa harus membahayakan nyawa mereka. "Kami berharap vonis ini pantas untuknya atas segala kejahatan yang ia lakukan terhadap bangsa Irak," kata Al-Maliki.

Kecuali sekutu dekat Amerika---termasuk Inggris dan Australia---sejumlah negara dan organisasi internasional menentang hukuman mati itu. Mereka beranggapan vonis itu sebagai upaya Washington menutupi kegagalan menemukan senjata pemusnah massal di negeri kaya minyak itu. Kecaman juga datang dari Paus Benediktus XVI. Dia mengatakan vonis itu sebuah langkah mundur yang justru akan memicu upaya saling balas dendam antar kelompok.

AP/AFP/ALJAZEERA/BBC/IHT/ANDREE PRIYANTO






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: