Bom Bunuh Diri Lumat Kuli Bangunan Irak
Senin, 20 November 2006 | 01:18 WIB
TEMPO Interaktif, Hilla: Kekerasan di Irak makin menggila, tak pandang bulu dalam memilih target. Pada Ahad (19/11), seorang pengebom bunuh diri menyerang kerumunan kuli bangunan yang kepingin mencari pekerjaan di daerah Bab al-Hussein, pusat Kota Hilla, sekitar 120 kilometer ke arah selatan dari Bagdad. Sedikitnya 30 buruh kasar tewas dan 44 lainnya cedera dilumat bom laknat itu.
Menurut Haider Ali, saksi mata, seorang pria yang berlagak layaknya mandor dengan menumpang mobil minivan mendekati kumpulan kuli bangunan. Lalu lelaki itu menawarkan pekerjaan sebagai buruh harian di sebuah proyek perumahan. "Puluhan pekerja segera berkumpul di sekitar mobilnya, lalu pria itu meledakkan diri bersama mobilnya," katanya.
"Saya terpental beberapa meter, kemudian tidak dapat melihat atau mendengar selama beberapa menit," ujar Muhammad Abbas Kadhim, korban yang selamat. "Habis itu, saya melihat orang-orang berlari ke sana-kemari mencari anak, saudara, dan temannya sambil berteriak 'Allahu Akbar', sedangkan yang perempuan menangis dan menjerit histeris."
Muhsin Hadi Alwan, kuli bangunan yang terluka, mengatakan korban cedera yang bergelimpangan mengerang kesakitan dengan suara yang memilukan. Darah yang muncrat dari tubuh para buruh kasar yang jadi sasaran bom bunuh diri itu berceceran di tanah. Suara bom yang sangat kencang memecahkan kaca-kaca toko di sekitar pusat ledakan.
"Mengapa mereka menyerang orang miskin? Apa yang mereka dapat dari membunuh rakyat miskin. Ini kerjaan takfiris (ekstremis)," kata Qaiz Muhammad, penduduk Hilla. Beberapa warga menuding pemberontak Sunni sebagai biang keladinya. Lainnya menyalahkan polisi yang tidak pernah melindungi kaum melarat, seperti buruh harian.
Sebetulnya Hilla merupakan kawasan yang relatif aman ketimbang Irak Tengah dan Irak Barat, yang hampir saban hari dikoyak bom. Kekerasan yang merenggut nyawa manusia terakhir terjadi di kota itu pada 30 Agustus lalu. Waktu itu sebuah bom menghantam sebuah pusat perekrutan tentara, yang membunuh 12 calon serdadu dan melukai 38 lainnya.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice mengatakan rakyat Irak mesti melawan perbedaan itu. Soalnya, mereka tidak bakal punya masa depan kecuali mau bersatu. "Rakyat Irak harus membuat keputusan yang kuat dan baik seperti yang dilakukan Vietnam," ujarnya dalam forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Vietnam.
AFP | AP | SS KURNIAWAN





