Paus Dukung Turki Masuk Uni Eropa
Selasa, 28 November 2006 | 23:05 WIB
TEMPO Interaktif, Ankara:Tepat pukul 12:55 waktu Turki pesawat yang mengangkut pemimpin 1,1 miliar umat Katolik dunia, Paus Benediktus XVI, dari Roma, Italia, mendarat mulus di Bandar Udara Internasional Esenboga di Ankara. Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, tokoh konservatif Islam di sana, Selasa (28/11) kemarin menyambut langsung Paus.
Kantor Berita Perancis AFP menyebut langkah Erdogan menyambut Paus sebagai sebuah isyarat diplomatik luar biasa. Maklum, Erdogan hingga detik-detik terakhir kedatangan Paus, lebih memilih segera terbang ke Riga, Latvia guna menghadiri konferensi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
"Kami sangat menghargai atensi perdana menteri," begitu pernyataan yang dikeluarkan Vatikan. Usai bertemu Erdogan, kemarin Paus menyatakan mendukung langkah Turki bergabung dengan Uni Eropa. "Turki adalah jembatan antara budaya Barat dan Islam," tuturnya.
Rupanya Paus mahfum benar dengan penolakan sebagian besar umat Islam di negeri sekuler itu. Sudah sedari lama warga Turki jengkel dengan Paus. Pada 2004 ketika masih menjadi Kardinal, Paus menyatakan membawa Turki masuk ke dalam Uni Eropa bakal berisiko tinggi bagi kehancuran budaya Eropa.
"Mengajak Turki bergabung adalah suatu kesalahan besar," katanya. Gelombang penolakan kian besar di Turki ketika pemimpin Takhta Suci itu membuat pernyataan kontroversial saat napak tilas ke kampung halamannya di Jerman Oktober lalu. Dalam sebuah kuliah umum di Bavaria ia menghubungkan Islam denga kekerasan.
"Tidak! Tidak! Tidak!" teriak 20 ribu massa sembari mengepalkan tinju ke udara. Tua, muda, lelaki, dan perempuan Ahad kemarin menggelar protes penolakan kunjungan Paus di Istanbul. "Kami percaya Yesus, Anda percaya Muhammad?" teriak seorang remaja lewat pengeras suara.
Besarnya animo penolakan membuat pemerintah Turki kemarin menutup jalan menuju bandara sejauh 30 km yang tepinya dipenuhi bendera Vatikan berdampingan dengan bendera Turki. Pemerintah cemas bakal ada bom dan serangan dadakan kaum militan. Polisi dan satuan penjinak bom dikerahkan ke sana.
AFP/SPEIGEL/TURKISHDAILYNEWS/ANDREE PRIYANTO




Komentar Anda [1] :