Rusia Merasa Ditipu NATO
Rabu, 29 November 2006 | 21:15 WIB
TEMPO Interaktif, Moskow: Rusia merasa ditipu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan menilai perluasan sistem pertahanan Amerika Serikat di Eropa hendak mengurangi lingkup pengaruh Rusia.
"Kita cuma ditipu. Mereka dulu bilang begini, tapi kemudian melakukan yang lain," kata Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Ivanov di Saint Petersburg, Rusia, Selasa waktu setempat, tanpa memberi penjelasan terperinci.
Menurut Ivanov, seperti dikutip kantor berita Rusia ITAR-TASS, Rusia tak dapat mengomentari keputusan negara-negara asing untuk bergabung dengan aliansi negara trans-Atlantik itu, tapi menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur militer di negara-negara Baltik tak akan membantu NATO mencapai tujuannya untuk menjaga perdamaian dan memerangi terorisme.
Satu per satu negara bekas blok Uni Soviet bergabung dengan NATO. Pada 1999, Republik Cek, Hungaria, dan Polandia menjadi negara pertama yang bergabung. Bulgaria, Estonia, Latvia, Lituania, Rumania, Slovakia, dan Slovenia bergabung pada 2004. Georgia dan Ukraina sudah masuk daftar antrean masuk NATO dan Presiden Bush mengatakan bahwa pintu terbuka bagi mereka.
Amerika juga telah berunding dengan negara sekutunya di Eropa tentang kemungkinan menempatkan misil pertahanan di Eropa untuk menghadapi ancaman misil balistik Timur Tengah.
Dalam wawancara yang diterbitkan Union State, jurnal hubungan Rusia-Belarusia, Ivanov mengkritik rencana perluasan sistem pertahanan Amerika ke Eropa itu. "(Perluasan) itu cuma kedok bagi upaya mengurangi stabilitas strategis dan mengurangi lingkup pengaruh potensial Rusia," katanya.
Rusia bulan ini membuat kemenangan simbolis atas Washington melalui penandatanganan pakta pertahanan bersama Rusia-Uzbekistan. Sebelumnya, Uzbekistan menolak pembangunan pangkalan udara Amerika di negerinya dan mengumumkan bahwa wilayah darat dan udaranya tertutup bagi semua militer negara NATO kecuali Jerman.
Namun, Rusia mendukung rencana NATO menciptakan perdamaian di Afganistan melalui Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF). Rusia, kata Ivanov, telah menyumbang senjata dan peralatan senilai Rp 1,8 miliar lebih kepada Presiden Hamid Karzai.
Saat ini ada 32 ribu tentara dari 37 negara yang tergabung dalam ISAF di Afganistan. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi NATO di Riga, Latvia, kemarin, para pemimpin dari 26 negara anggota NATO setuju untuk memperkuat komitmennya di Afganistan tanpa memastikan jumlah anggota pasukan tambahan dari masing-masing negara. Namun, mereka setuju untuk membentuk Pasukan Tanggap Darurat (NRF) berkekuatan 25 ribu tentara yang siap dikirim ke mana saja.
l AFP | ITAR-TASS | AP | IWANK




Komentar Anda [1] :