Badai Durian Lumat Filipina
Sabtu, 02 Desember 2006 | 02:30 WIB
TEMPO Interaktif, Legazpi: Badai Durian yang menderu-deru di atas Semenanjung Bicol selama tujuh jam sepanjang Kamis malam lalu menyebabkan wilayah timur Provinsi Albay, Filipina, porak-poranda. Sedikitnya 388 orang tewas dan 96 lainnya hilang dilumat tanah longsor, banjir lumpur, dan lahar dingin.
Topan berkekuatan 150 kilometer per jam yang disertai hujan lebat merobohkan kubah lava Gunung Mayon, sekitar 350 kilometer ke arah tenggara dari Manila. Tak ayal lagi, lahar dingin yang bercampur pasir, kerikil, dan bebatuan segede rumah menggulung puluhan desa yang berada di bawahnya.
Menurut Roel Ilarena, penduduk Desa Padang, yang terletak di kaki Mayon, tak kurang dari 500 warga kampungnya tewas ditelan lahar dingin dan tanah longsor. "Kami belum punya data pasti jumlah korban tewas," kata Glenn Rabonza, Direktur Eksekutif Badan Koordinasi Bencana Alam Filipina.
Tapi data yang dipegang Palang Merah Filipina menyebutkan setidaknya 388 orang putus nyawa. Juru bicara Teresa Arguelles mengatakan jumlah korban tewas kemungkinan besar bertambah. Soalnya, ada beberapa wilayah bencana yang sama sekali belum disentuh tim penyelamat.
Menurut hitung-hitungan Badan Koordinasi Bencana Alam Provinsi Albay, 23 orang tewas dan 139 lainnya hilang di Desa Padang, 29 warga putus nyawa dan 30 lainnya belum ditemukan di Kota Santo Domingo, 89 penduduk meninggal di Kabupaten Daraga, dan 100 orang tewas di Kabupaten Guinobatan.
Sebetulnya, Filipina baru saja sembuh dari luka setelah diobrak-abrik topan Cimaron, yang paling besar dalam 10 tahun terakhir, pada Oktober lalu. Sebulan sebelumnya, Xangsane yang mengamuk, menyebabkan kerusakan parah di Manila dan menewaskan lebih dari 200 orang.
AFP | AP | PNA | SS KURNIAWAN
Topik :






Komentar Anda :