Rusia Kecam Sanksi Amerika
Minggu, 07 Januari 2007 | 22:44 WIB
TEMPO Interaktif, Moskow: Rusia mengecam sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan pemasok senjata ke Iran dan Suriah. Melalui pernyataan Kementerian Luar Negeri pada Sabtu lalu, Moskow menilai langkah Washington itu "ilegal".
"Amerika Serikat bukan untuk pertama kalinya berusaha memperluas cakupan undang-undang nasionalnya secara ilegal ke negara lain, memaksa semua bekerja menurut aturan Amerika," demikian pernyataan itu.
Moskow menanggapi pengumuman Washington, Jumat lalu, yang menjatuhkan sanksi terhadap 24 entitas asing, antara lain dari Rusia, Cina, dan Korea Utara. Mereka dianggap menjual secara ilegal senjata terlarang ke Iran dan Suriah.
Menteri Pertahanan Rusia Sergey Ivanov selaku kepala komisi pengawasan ekspor militer membenarkan ada tiga perusahaan Rusia yang terkena sanksi. "Ketiga perusahaan itu tidak melanggar norma internasional mana pun tentang proliferasi senjata pemusnah massal dan teknologi peluru kendali," kata Ivanov, seperti dikutip kantor berita Interfax.
Perusahaan pengekspor senjata milik pemerintah Rusia, Rosovoroneksport, termasuk yang terkena sanksi, yang diberlakukan berdasarkan Undang-Undang Nonproliferasi Iran dan Suriah Tahun 2005. Ivanov menambahkan pemerintah Amerika tidak senang dengan tumbuhnya volume penjualan senjata dan peralatan militer Rusia.
Perusahaan Rusia lain yang masuk daftar penerima sanksi adalah Koloma Design Bureau of Machine-Building. Selain kedua perusahaan itu, sanksi berlaku buat individu bernama Alexey Sofanov. Tapi, dalam pengumuman sanksi oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tak disebutkan perincian tentang jati dirinya.
Tiga perusahaan Cina yang masuk daftar sanksi adalah China National Electronic Import-Export Company, China National Aero-Technology Import and Export Company, dan Zibo Chemet Equipment Company. Sanksi yang mulai berlaku efektif pada 28 Desember itu juga menimpa entitas dari Iran, Sudan, Suriah, Pakistan, Malaysia, dan Meksiko.
Amerika Serikat menerapkan sanksi serupa pada Rosovoronexport dan pembuat pesawat Rusia, Sukhoi, pada Agustus 2006. Keduanya dinilai memberi Iran material, yang oleh Washington dianggap bisa digunakan untuk membuat senjata pemusnah massal. Sanksi terhadap Sukhoi dicabut pada November setelah munculnya protes keras dari Moskow.
Kementerian Luar Negeri Rusia menganggap semua keputusan Washington itu lebih disebabkan oleh problem internal otoritas Amerika. Dikatakan, negara Amerika melarang diri sendiri dan perusahaan Amerika bekerja sama dengan bisnis-bisnis terkemuka Rusia. "Dalam ukuran bisnis, itu berarti menyia-nyiakan peluang."
Kalangan bisnis Rusia juga menolak keras langkah Washington. Mereka menyatakan telah menghormati dan mematuhi hukum internasional. Rusia merupakan salah satu pengekspor senjata terkemuka di dunia. Pada 2005, negara itu menjual senjata ke 61 negara, dengan nilai mencapai rekor lebih dari US$ 6 juta (Rp 54 triliun).
l AFP | AP | YANTO MUSTHOFA





