Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
 
   

Bush Minta Kesempatan Atasi Irak
Kamis, 25 Januari 2007 | 01:09 WIB

TEMPO Interaktif, Washington: Presiden Amerika Serikat George W. Bush meminta para legislator dan rakyat Amerika bersabar dan memberi kesempatan atas strategi Iraknya yang tak populer itu.

"Negara kita mencoba strategi baru di Irak, dan saya minta Anda memberinya kesempatan untuk dilakukan," kata Bush dalam pidato kenegaraan tahunan ketujuh di hadapan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan senator di Washington kemarin (Selasa waktu setempat).

Dia menyatakan penambahan 21.500 tentara lagi diperlukan karena kekalahan Amerika di sana dapat memicu "perang akbar" yang dapat menelan seluruh Timur Tengah. "Bagi Amerika, ini adalah skenario mengerikan. Bagi musuh, ini adalah sasaran," ujar Bush.

"Jika pasukan Amerika mundur sebelum Bagdad aman, pemerintah Irak akan dijalankan oleh para ekstremis di semua bidang," katanya.

"Kita dapat memperkirakan pecahnya perang akbar antara ekstremis Syiah yang didukung Iran dan ekstremis Sunni yang dibantu Al-Qaidah serta para pendukung rezim lama," kata Bush. "Dampak buruk kekerasan dapat meluber ke seluruh negeri dan pada saatnya seluruh kawasan itu dapat terseret ke dalam konflik."

Dalam pidatonya, Bush juga menyampaikan beberapa kebijakan domestik. Menjawab kritik dunia yang menuduhnya mengabaikan perubahan iklim, misalnya, Bush menyerukan pengurangan 20 persen pemakaian bensin pada 2017.

Dia juga menyerukan pelipatgandaan cadangan minyak darurat Amerika pada 2027. Bush juga kembali mendorong rencana reformasi imigrasi, yang menekankan program pekerja tamu, sikap yang lebih banyak menarik dukungan dari kalangan Demokrat ketimbang partainya sendiri, Republik.

Bush memulai pidatonya ini 12 jam sebelum Komisi Hubungan Luar Negeri Senat memulai menggarap resolusi dwipartai Republik dan Demokrat, yang menentang rencana Bush mengirim pasukan tambahan ke Irak.

Partai Demokrat tak terbuai dengan pidato Bush dan tetap menuntut penarikan pasukan Amerika dari Irak. Dalam pidato tanggapan dari Demokrat, senator Jim Webb dari Virginia mengatakan bahwa Bush "telah membawa kita ke dalam perang ini secara sembrono".

"Dengan menghargai kebijakan luar negeri, negara ini telah dengan sabar menanggung perang yang salah urus itu selama hampir empat tahun," kata Senator, yang putranya menjadi marinir dan dikirim ke Irak, itu.

Amerika, kata dia, saat ini telah tersandera oleh kekacauan yang dapat diperkirakan dan telah diperkirakan menyertainya. "Mayoritas bangsa ini tak lagi mendukung cara perang ini diperjuangkan, tak pula didukung mayoritas militer kita," ujar Webb.

Letnan Jenderal David Petraeus, perwira yang bertugas menyusun rencana baru Bush di Irak, sebelumnya telah berterus terang di hadapan komisi Senat soal rencana penambahan pasukan itu.

"Situasi di Irak kini mengerikan. Taruhannya tinggi. Tak ada pilihan yang mudah. Di masa mendatang akan sangat sukar. Tapi sukar bukan berarti tanpa harapan," katanya.

Petraeus juga mengatakan bahwa saking mengerikannya keadaan di Irak kini, ia tak menjamin rencana Bush akan berhasil.

Para politikus Irak dari Sunni ataupun Syiah menilai tak ada yang baru dari pidato Bush ini. "Bush belum datang dengan sesuatu yang baru dan pidatonya tak memberi harapan nyata bagi warga Irak kebanyakan," ucap legislator Sunni, Hussein al-Falluji.

"Bush mengatakan bahwa mengirim anggota pasukan lebih banyak akan menyelesaikan persoalan keamanan, tapi saya pikir itu tak akan mengekang kekerasan untuk waktu yang lama karena masalahnya bukan hanya militer, ini lebih pada soal politik dan campur tangan asing," kata Al-Falluji.

Adapun Falah Hassan, legislator dari kelompok ulama Syiah, Muqtada al-Sadr, juga menuntut solusi politik. "Pidato Bush masih memuat logika kekuasaan dan penghancuran ketimbang logika dialog dan solusi politik," ujarnya.

"Saya percaya bahwa pemerintah Amerika seharusnya mengadopsi pidato perdamaian ketimbang pidato para tentara," kata Hassan.

l AP | AFP | THE TIMES | BBC | KURNIAWAN


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Perlawanan dari dalam Kongres Menguat
600 Pembela Al-Sadr Diciduk
Langkah Maju Perundingan Nuklir Korea
Kelompok al-Sadr Akhiri Boikot di Parlemen Irak
Hampir 35 Ribu Warga Tewas di Irak Pada 2006
Dua Kaki-Tangan Saddam Digantung
Bush dan Cheney Peringatkan Iran Soal Irak
Amerika Gagal Bunuh Tokoh Al-Qaidah di Somalia
Demokrat Tolak Penambahan Pasukan ke Irak
Italia Adili Agen CIA
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk91917 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Djoko Suprapto Kembali Dilarikan ke Rumah Sakit
Pemilu Dikhawatirkan Kurangi Setoran Pajak
Satu Korban Ryan Positif Orang Eropa
Pengusaha Sol Sepatu dan Petugas SPBU Ditangkap
Jenazah Ramses akan Dimakamkan

<< January,2007>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data