close

Pengintaian Orang Malaysia Berduaan Diprotes

Jum'at, 23 Februari 2007 | 00:44 WIB

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: Kelompok hak-hak asasi manusia Malaysia kemarin bereaksi keras atas rencana Negara Bagian Terengganu menyewa mata-mata untuk menangkap pasangan yang terlibat hubungan seks di luar nikah.

Sisters in Islam, kelompok perempuan muslim yang memperjuangkan hak-hak gender, menuntut pemerintah Terengganu mencabut rencana itu. Mereka menilai, "Penertiban moral yang dilakukan otoritas keagamaan negara dan aparat pembantunya sering membawa dampak merajalelanya penyalahgunaan kekuasaan."

"Kami meminta pemerintah Terengganu menghentikan rencana itu dan berhenti mengubah masyarakat Terengganu menjadi mata-mata negara," kata Zaitun Kasim, manajer program kelompok tersebut, dalam pernyataannya.

"Dana masyarakat yang dibuang sia-sia dengan cara ini dapat dipakai untuk hal yang lebih berguna, khususnya bagi pendidikan masyarakat," ujarnya.

Menurut rencana, para mata-mata itu akan dilatih oleh pejabat keagamaan dan ditempatkan di hotel-hotel serta taman-taman. Mereka akan diberi hadiah bila memberi kisikan tentang pasangan yang tertangkap berada dalam keadaan mencurigakan.

Rosol Wahid, Ketua Islam Hadhari dan Komisi Kesejahteraan, mengatakan langkah itu diambil dengan tujuan menekan meningkatnya jumlah pasangan muda-mudi yang berkhalwat atau berhubungan sangat dekat, hal yang tergolong dosa besar dalam Islam.

Larangan khalwat juga diterapkan kepada lelaki dan perempuan bukan suami-istri yang tertangkap berduaan di ruang pribadi atau menunjukkan rasa cintanya di depan umum, seperti bergandengan tangan. Ini semua hanya berlaku bagi kaum muslim.

Lim Guan Eng, Sekretaris Jenderal Partai Aksi Demokrasi, partai oposisi berbasis etnis Cina, mengingatkan bahwa rencana itu akan menjauhkan para turis asing dan mengancam cara hidup masyarakat umum di Malaysia yang multiras.

"Orang Melayu telah menyaksikan apa yang terjadi saat otoritas agama menyalahgunakan kekuasaannya di Langkawi tahun lalu, ketika kamar hotel yang dihuni sepasang orang Amerika yang sudah tua digerebek," katanya.

Aparat menggerebek apartemen sepasang orang Amerika yang sudah pensiun di Langkawi, pulau peristirahatan di sebelah utara Malaysia, atas kecurigaan mereka berkhalwat, walaupun tak jelas mengapa rumah nonmuslim itu yang jadi sasaran.

"Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi seharusnya konsisten dalam menghentikan penertiban moral asal-asalan ini dengan memerintahkan Terengganu membubarkan pasukan mata-matanya," ujar Lim Guan Eng.

Populasi Malaysia hampir 27 juta orang. Hampir 60 persennya muslim Melayu, 26 persen Cina, dan 8 persen India.

l AFP | MALAYSIAKINI | IWANK

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan