Cina Perkuat Militernya
Selasa, 06 Maret 2007 | 01:10 WIB
TEMPO Interaktif, Beijing: Cina akan terus memperkuat angkatan bersenjatanya, kata Perdana Menteri Wen Jiabao dalam pidatonya di hadapan 3.000 anggota parlemen dalam pembukaan Kongres Rakyat Nasional tahunan di Beijing, Cina, kemarin.
"Membangun sistem pertahanan nasional yang kukuh dan tentara rakyat yang kuat adalah langkah strategis dalam modernisasi sosialis," kata Wen. "Kita harus terus mengikuti dengan ketat panduan penting Kamerad (Presiden) Hu Jintao soal penguatan angkatan bersenjata."
Wen juga mengulangi soal penolakan Beijing terhadap usaha-usaha aktivis Taiwan untuk menciptakan kemerdekaan de facto secara permanen atas pulau itu. Wen mengatakan pemerintah akan mempromosikan jaringan transportasi dan komunikasi langsung Cina ke Teluk Taiwan.
"Kita benar-benar percaya bahwa dengan usaha-usaha dari seluruh rakyat Cina, termasuk kompatriot Taiwan kita, menyelesaikan reunifikasi Cina akan pasti terwujud," ujar Wen.
Pernyataan Wen ini keluar sehari sesudah Presiden Taiwan Chen Shui-Bian mengatakan kepada kelompok prokemerdekaan bahwa, "Taiwan harus merdeka. Taiwan adalah sebuah negara yang kedaulatannya terletak di luar Republik Rakyat Cina."
Wen juga mengatakan bahwa pemerintah akan mempercepat transformasi 2,3 juta Tentara Pembebasan Rakyat Cina menjadi pasukan tempur berteknologi tinggi. Pada Ahad lalu, Cina mengumumkan akan meningkatkan belanja militernya 17,8 persen dari 2007 menjadi 350,92 miliar yuan (sekitar Rp 420 triliun), loncatan terbesar dalam satu dekade lebih belakangan ini.
Juru bicara parlemen, Jiang Enzhu, mengatakan, tanpa memerinci lebih jauh, bahwa anggaran pertahanan sebesar itu terutama akan dipakai untuk menaikkan gaji dan taraf hidup tentara dan meningkatkan persenjataan.
Kementerian Keuangan menyatakan dalam laporan terpisah kepada parlemen bahwa kenaikan anggaran itu akan "meliputi biaya perbaikan kemampuan militer dalam perang pertahanan di bawah kondisi teknologi tinggi dan menanggapi keadaan darurat".
Wen juga menyerukan peningkatan kemampuan tentara dalam menghadapi "perang pertahanan berteknologi informasi", tanpa menjelaskan lebih lanjut maksud ungkapan tersebut.
Sekitar sepersepuluh anggota parlemen dalam kongres itu adalah perwira militer, yang datang dengan seragam lengkap dan terlihat sangat senang dengan pidato Wan serta kenaikan anggaran militer.
"Ini hal yang bagus. Jika kami tak punya pertahanan yang kuat, akan sukar mengembangkan tanah air kami. Setiap negara perlu pertahanan yang kuat," kata Mayor Jenderal Yan Huazheng, delegasi dari Provinsi Shanxi.
"Taiwan adalah bagian dari wilayah kami. Itu tentu satu faktor (dalam menaikkan anggaran belanja pertahanan), tapi bukan satu-satunya," ujarnya. "Ada banyak faktor yang mengancam Cina, dan mereka datang dari semua sudut."
Reunifikasi dengan Taiwan adalah salah satu sasaran jangka panjang Cina. Para analis politik mengatakan bahwa Beijing memperkuat militernya sebagian untuk memungkinkan dia merebut kembali Pulau Taiwan dengan paksa jika perlu.
Cina dan Taiwan terpisah sejak akhir perang sipil pada 1949, ketika kaum komunis mengalahkan Partai Nasional yang berkuasa dan mundur ke Pulau Taiwan. Tapi hingga kini Beijing menganggap pulau itu bagian dari wilayahnya dengan Kebijakan Satu Cinanya. Sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia, mengakui kebijakan itu, tapi pemerintah Taiwan juga bergerilya melobi beberapa negara untuk mengakui kemerdekaannya.
Sejak awal dekade ini Taiwan dipimpin Presiden Chen Shui-Bian, yang cenderung independen. Hal ini menebar kecemasan di Beijing bahwa pulau itu akan melepaskan diri.
Tahun lalu Presiden Chen mengganti nama "Cina" dengan "Taiwan" pada kantor pos dan dua perusahaan besar milik pemerintah. Dia juga menyingkirkan nama pemimpin Partai Nasionalis, Chiang Kai-Shek, dari bandar udara internasional utama Taiwan dan memerintahkan pelucutan ratusan patung Chiang di seluruh basis militer Taiwan.
l AFP | AP | KURNIAWAN





