Politik Assertif Jepang Setelah Shinzo Abe Lengser
Jum'at, 14 September 2007 | 01:38 WIB
TEMPO Interaktif, Tokyo: Masa depan "diplomasi assertif" Jepang diujung tanduk setelah Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan mundur Rabu lalu. Tapi para pengamat mengatakan sebuah pergeseran besar kebijakan luar negeri tampaknya disayangkan.
Sekutu utama Jepang, Amerika Serikat, sebagaimana rival regionalnya seperti Cina, tengah mencermati perlombaan yang tengah berlangsung menggantikan Abe.
Mundurnya Abe hanya selang tiga hari setelah ia menggelar serangkaian perundingan penting dengan koleganya para pemimpin Asia Pasifik di Sydney, Australia dan hanya dua hari setelah ia menegaskan tetap bertahan.
"Pengunduran diri Perdana Menteri Abe tampaknya mengurangi kepercayaan internasional atas Jepang," kata Tetsuro Kato, profesor politik pada Hitotsubashi University di Tokyo, kemarin.
Abe, 52 tahun, politisi konservatif yang pendiam di Jepang adalah perdana menteri pertama yang lahir setelah Perang Dunia II. Ia berkuasa hampir setahun dengan citra muda dan populer.
Abe punya visi "diplomasi assertif" bertujuan untuk menulis ulang konstitusi pasifis dan memainkan peran besar dalam kancah dunia. Termasuk operasi-operasi militer di luar negeri. Dia juga berdiri tegas dalam persoalan Korea Utara. AFP/dwi arjanto





