Protes 1.500 Biksu di Myanmar
Jum'at, 21 September 2007 | 23:34 WIB
TEMPO Interaktif, Yangon:Sekurangnya 3.000 pengunjuk rasa Jumat (21/9) kemarin berbaris menerjang hujan dan banjir menuju ke bekas ibu kota Yangon. Separuh di antara pendemo berjalan sambil nyeker. Aksi protes itu merupakan unjuk rasa terbesar sejak demo anti-pemerintah sebulan lalu.
Protes itu diawali dengan longmarch sekitar 1.500 biksu menuju situs paling terkemuka di Myanmar, Pagoda Shwedagon. Sembari membawa bendera keagamaan para pendeta Budha itu berjalan kaki menuju ke tengah kota Yangon. Lalu berhenti balai kota.
"Perdamaian akan menang. Rakyat tak akan diganggu," para biksu berdoa dihadapan sekitar 1.500 massa yang berjejer di sepanjang tepi jalan yang dilintasi para biksu itu. Alhasil massa pun akhirnya berduyun-duyung berbaur bersama para biksu itu.
"Para biksu itu ingin pemerintah mendengar dan memahami bahwa rakyat mereka menderita," tutur Aung Naing Oo, seorang pengamat politik di Myanmar yang menetap di Thailand. Demo kemarin merupakan yang terbesar nyaris dalam 20 tahun terakhir.
"Kami menanti demo seperti ini selama 45 tahun," tutur seorang warga yang ikut unjuk rasa. Terutama sejak militer menguasai panggung pemerintahan negeri yang dahulu bernama Birma itu pada 1962.
Biksu-biksu itu 'turun gunung' menyusul maraknya demo menentang naiknya harga BBM. Sebab kenaikan itu membuat ongkos transportasi umum melonjak. Alhasil banyak warga yang tak sanggup membayar ongkos bus.
Duta Besar Inggris dan Amerika Serikat di Perserikatan Bangsa-Bangsa Jumat (21/9) kemarin mendesak pemerintah junta Myanmar agar mengizinkan Utusan Khusus PBB Ibrahim Gambari berkunjung ke sana. "Secepatnya," demikian dikatakan PBB seperti dikutip AFP
| AP |AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO





