|
Mimpi Buruk Perang Irak
Minggu, 14 Oktober 2007 | 20:59 WIB
TEMPO Interaktif, Arlington:Bekas panglima pasukan pimpinan Amerika Serikat di Irak pada 2003 dan 2004 Letnan Jenderal Ricardo Sanchez, Ahad (14/10), mengatakan situasi di Irak saat ini sukar dikendalikan, namun Gedung Putih tak punya pilihan lain kecuali terus bercokol di Irak.
"Tidak diragukan lagi bahwa Amerika hidup dalam mimpi buruk tanpa akhir," kata Sanchez kepada para wartawan di Arlington di dekat Washington.
Pensiunan jenderal bintang tiga itu juga menyebut bahwa strategi yang sekarang ini, termasuk penambahan terbaru sekitar 30 ribu tentara, merupakan usaha putus-asa untuk menangani kenyataan perang itu.
"Sejak awal rencana perang itu sangat cacat," katanya. "Itulah optimisme yang tidak realistis!" Ia mengecam apa yang disebutnya kepemimpinan strategi yang tidak terampil di antara para pemimpin nasional Amerika.
"Andai saja mereka (pemimpin nasional) itu militer mereka bisa diseret ke mahkamah militer," tuturnya. Katanya peningkatan operasi militer secara tiba-tiba di Irak saat ini sebagai wujud rasa frustasi Washington.
"Mereka tak dapat menerima berbagai kenyataan perang," ujarnya. Menanggapi komentar itu Gedung Putih segera bereaksi. Washington lantas merujuk kepada laporan yang dibuat oleh para petinggi Amerika di Irak saat ini.
"Kami menghargai jasanya kepada negara," kata juru bicara Gedung Putih Trey Bohn seraya mengutip laporan terakhir yang dibuat Panglima Komando Operasi Militer Amerika di Irak Jenderal David Petraeus dan Dubes Amerika di Bagdad Ryan Crocker.
"Seperti dikatakan Jenderal Petraues dan Dubes Crocker, masih banyak yang harus dilakukan namun kemajuan mulai terjadi di Irak," tutur Bohn.
Letnan Jenderal Sanches mengundurkan diri dari militer setelah skandal yang terjadi di penjara Abu Ghraib dimana para tawanan Irak dianiaya oleh tentara Amerika.
| AP | AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO
INDEKS BERITA LAINNYA :
|