Korban Sesalkan Pilot Pembom Hiroshima Tak Pernah Minta Maaf
Sabtu, 03 November 2007 | 00:40 WIB
TEMPO Interaktif, Tokyo: Sejumlah warga Jepang yang selamat dalam serangan bom atom atas Hiroshima dalam kecamuk Perang Dunia II kemarin menyesalkan pilot pesawat Amerika Serikat yang menjatuhkan maut, meninggal tanpa kata maaf.
Paul Warfield Tibbets, Jr, yang menerbangkan satu bomber B-29-Enola Gay yang menjatuhkan bom atom seberat 9 ribu pound berjuluk "Little Boy" pada 6 Agustus 1945, Kamis lalu meninggal. Dia tutup usia di rumahnya di Columbus, Ohio, dalam usia 92 tahun.
Tibbets tak pernah sekalipun menyatakan penyesalan atas pengeboman yang mengakhiri Perang Dunia II, tapi dengan harga yang dahsyat: 140 ribu warga Hiroshima mati seketika dan 80 ribu lainnya mengalami dampak radiasi.
"Dia tak meminta maaf, beralasan, seperti pemerintah Amerika, bahwa pemboman itu menyelematkan jutaan warga Amerika dan Jepang dengan pengakhiran perang," kata Nori Tohei, 79 tahun, yang selamat dalam tragedi perang tersebut.
"Tapi saya ingin dia berkunjung ke Hiroshima dan melihat langsung hasil yang dia buat dalam kepentingan kemanusiaan," kata Tohei, Wakil Pemimpin Konfederasi Organisasi Korban Bom A dan H yang kini tinggal di Tokyo.
"Dia mendapat perintah sebagai prajurit tapi saya ingin dia menerima (pemboman) itu suatu kesalahan dan meminta maaf kepada mereka yang terbunu atau yang dalam jangka waktu lama terluka akibat radiasi," tutur Tohei kepada AFP, kemarin.
Tohei baru berusia 17 tahun pada 9 Agustus 1945, tiga hari setelah ledakan Hiroshima dan hari itu adalah bom atom Amerika kedua dijatuhkan di bagian selatan yakni kota Nagasaki. Amerika Serikat hingga saat ini secara resmi belum pernah meminta maaf atas serangan nuklir tersebut. AFP/dwi arjanto





