90 Tewas, Afganistan Berkabung
Rabu, 07 November 2007 | 23:44 WIB
TEMPO Interaktif, Kabul:Presiden Afganistan Hamid Karzai Rabu (7/11) kemarin mengumumkan tiga hari berkabung nasional di negeri itu guna mengenang korban serangan bom bunuh diri di Kota Baghlan Baru, 152 kilometer arah utara Ibu Kota Kabul. Serangan Selasa pagi lalu itu menewaskan 90 orang.
"Semestinya dia menamatkan sekolahnya tahun ini," tutur seorang pria paruh baya di atas makam anak lelakinya yang ikut jadi korban. Air matanya meleleh membasahi kedua pipinya. Pria itu satu dari sekitar seratus keluarga korban yang memadati pemakaman.
Massa pelayat itu berkumpul di sebuah masjid tak jauh dari lokasi ledakan di jantung Kota Baghlan Baru. Setelah disalatkan, massa lantas menguburkan jenazah para korban tersebut secara massal di sebuah pemakaman sederhana di atas bukit.
Di Kabul, Presiden Karzai kemarin melepas enam jenazah anggota parlemen Afganistan yang tewas dalam serangan paling berdarah sejak invasi Amerika Serikat ke Afganistan pada 2001. Enam peti jenazah tiba di Bandar Udara Kabul menumpang heli.
Peti-peti itu lantas ditaruh di atas karpet merah. Tak lama kemudian Presiden Karzai didampingi selusin lebih pejabat teras Afganistan memberi penghormatan terakhir. "Inilah ulah musuh-musuh perdamaian dan keamanan," kata Karzai lantang.
"Memerangi ekstremis dan terorisme secara serius itulah satu-satunya cara yang terbaik!" Karzai menekankan. "Jika tidak, kita akan terus-menerus menderita." Pidato Karzai itu disiarkan di televisi bersamaan dengan siaran rohani dan analisis peristiwa itu.
Parlemen Afganistan meminta agar jenazah keenam teman mereka itu dimakamkan di kompleks parlemen sebagai sebuah monumen. Salah satu anggota parlemen yang tewas adalah Mustafa Kazimi, bekas Menteri Perdagangan Afganistan.
Adapun Amerika Serikat menuding serangan bunuh diri itu sebagai tindakan yang "keji dan pengecut". Presiden Karzai dalam acara pelepasan jenazah tersebut menyatakan bahwa dia sudah memerintahkan aparat berwenang melakukan penyelidikan.
Tapi belum-belum Taliban menyatakan tak terlibat dalam serangan bom bunuh diri tersebut. "Warga sipil bukanlah sasaran kami," kata Zabiullah Mujahid, juru bicara Taliban. Ia menampik tudingan pemerintah Afganistan bahwa kelompoknya terlibat.
Taliban, yang selama ini mengincar prajurit militer Afganistan dan internasional, termasuk pejabat pemerintah, memang kerap dijadikan kambing hitam atas pelbagai serangan di sana, terutama di wilayah selatan atau tenggara Afganistan.
Dalam setahun belakangan ini, sekurang-kurangnya ada 120 serangan bom bunuh diri yang dialamatkan kepada Taliban. Kantor berita AP mencatat lebih dari 5.700 orang tewas dalam sejumlah serangan yang dilancarkan para milisi dan pemberontak di Afganistan.
AP | AFP | ALJAZEERA | BBC | ANDREE PRIYANTO





