|
Indonesia Diminta Dukung Kelompok Moderat Palestina
Selasa, 13 November 2007 | 13:07 WIB
TEMPO Interaktif, Nusa Dua: Indonesia dapat berperan aktif menciptakan perdamaian antara Israel dan Palestina dengan cara mendukung kelompok moderat di Palestina untuk terus melanjutkan perundingan.
Pandangan itu dinyatakan Dr Colin Rubenstein, Eksekutif Direktur of The Australia/Jewish and Jewish Affairs Council (AIJAC) dalam pertemuan International Association of Political Consultant di Nusa Dua, Bali , 13-14 Nopember.
“Tidak diragukan kompromi akan sulit tercapai. Tetapi akan menjadi lebih mudah jika ototitas Palestina mendapat dukungan dari dunia Arab dan Islam,” tegas guru besar pada Monash University, Australia ini.
Keberadaan Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia dapat menjadi elemen kunci dalam prose situ. Suara Indonesia, kata dia, akan dapat mengimbangi suara dari kalangan garis keras seperti Hamas dan Hizbullah yang didukung Iran.
Rubenstein menilai, kedua pihak bertikai sangat menghormati Indonesia sehingga akan terbuka jalan untuk penyelesaian konflik secara lebih tulus. Israel, menurutnya , sangat terbuka untuk bekerjasama dengan Indonesia tidak hanya dalam masalah Palestina tetapi juga untuk pembangunan kedua negara. “Penghormatan Israel atas kehadiran pasukan Indonesia di Lebanon menunjukkan peran positif yang bisa dimainkan,” katanya.
Pandangan Rubenstein itu ditanggapi negatif oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Nafi Mehdawi. Menurutnya, gagasan itu hanyalah agar Israel mendapat pengakuan dari Indonesia sebagai negara muslim terbesar. “Itu strategi mereka dari dulu,” tegasnya yang juga menjadi pembicara dalam pertemuan itu. Dia yakin, upaya itu akan mendapat tentangan keras dari pihak-pihak di Indonesia yang selama ini mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Israel, kata dia, ingin mengesankan dirinya sebagai insiator perdamaian dan melupakan akar masalahnya. Yakni, pendudukan wilayah Palestina sejak tahun 1967. “ Sekarang mereka yang menuduh kami membuat masalah,” tegasnya. Munculnya kelompok-kelompok seperti Hamas pun , menurutnya, hanya merupakan reaksi atas situasi yang diciptakan Israel.
Mehdawi menegaskan, Indonesia selama ini telah memberikan bantuan nyata bagi bangsa Palestina. Namun, peran itu dapat lebih besar lagi khususnya dalam sejumlah isu strategis. Misalnya, soal status Jerusalem yang sesuai resolusi 242 Dewan Keamanan PBB menyebut East Jerusalem sebagai ibukota Palestina. Kota itu akan dijadikan sebagai kota terbuka bagi semua bangsa karena merupakan tempat suci. Tetapi pihak Israel menolak dan mempertahankan Jerusalem sebagai wilayahnya. (Rofiqi Hasan)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|