Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
 
   

PBB Keluarkan Resolusi Burma
Rabu, 21 November 2007 | 22:52 WIB

TEMPO Interaktif, Singapura:Panel Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa kemarin kembali membuat kejutan terhadap pemerintahan junta militer Burma: meloloskan sebuah resolusi yang secara tegas mengecam tekanan-tekanan yang dilancarkan junta terhadap unjuk rasa antijunta.

"Kami mengutuk digunakannya cara-cara kekerasan dalam meredam aksi unjuk rasa damai yang merupakan hak kebebasan warga untuk menyampaikan opininya dan ekspresinya," begitu bunyi teks resolusi yang belum dijilid itu.

Wakil Burma di PBB, Kyaw Tint Swe, dengan sigap buru-buru menanggapi resolusi yang bakal disahkan oleh 192 anggota penuh Majelis Umum PBB tersebut. "Pemerintah kami tidak berkecil hati ataupun terkejut (mendengar resolusi tersebut)," tutur Tint Swe.

Resolusi itu disetujui 88 negara anggota PBB melalui sebuah pemungutan suara. Sebanyak 24 negara menentang resolusi dan 66 negara abstain. Resolusi itu digalang sejumlah negara Eropa, Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru.

Adapun Cina, Rusia, India, Bangladesh, Kuba, Venezuela, dan negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), seperti Malaysia, Laos, dan Vietnam, menentang resolusi tersebut.

Negara anggota ASEAN lainnya, seperti Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Brunei, menyatakan abstain. Sementara itu, Kamboja tak ambil bagian dalam voting. Sejumlah negara, termasuk Singapura, beralasan resolusi justru mengancam upaya negosiasi.

Alasan Singapura cukup masuk akal mengingat utusan khusus PBB untuk Burma, Ibrahim Gambari, tengah giat-giatnya melobi para petinggi junta agar mau melakukan perubahan dalam bidang hak asasi dan politik.

Terlebih belum lama ini utusan PBB urusan hak asasi manusia, Paulo Sergio Pinheiro, diizinkan datang ke Burma atas restu junta militer, yang dikritik dunia internasional lantaran "membabat" aksi demo. Pinheiro terakhir kali berkunjung ke Burma pada 2003.

AP | AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Human Rights Watch Serukan Pemboikotan Permata Burma
Utusan Khusus HAM PBB tiba di Burma
Suu Kyi Bertemu Pejabat Junta Besok
Misi Gambari Gagal
Pejabat Hak Asasi PBB Diizinkan ke Burma
Junta Thailand Ancam Demokrasi
Gambari Bertemu Wakil Junta Burma
Burma Bebaskan Lagi 46 Tahanan
Biksu Burma Turun Jalan Lagi
Gambari Desak Jepang Menekan Rezim Burma
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk112058 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Djoko Suprapto Kembali Dilarikan ke Rumah Sakit
Pemilu Dikhawatirkan Kurangi Setoran Pajak
Satu Korban Ryan Positif Orang Eropa
Pengusaha Sol Sepatu dan Petugas SPBU Ditangkap
Jenazah Ramses akan Dimakamkan

<< November,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data