close

Rudd Bawa Angin Perubahan

Minggu, 25 November 2007 | 23:49 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Perdana Menteri Australia yang baru, Kevin Rudd, Ahad (25/11) kemarin kebanjiran ucapan selamat setelah meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum yang berlangsung Sabtu lalu. Ucapan selamat pertama kali datang dari Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Rudd, pemimpin negara tetangga terdekat Australia itu juga pemimpin dunia pertama yang secara resmi mengundangnya datang berkunjung ke Indonesia. Katanya, Presiden Yudhoyono memintanya menghadiri konferensi perubahan iklim di Bali.

"Saya tekankan kepada Presiden Yudhoyono betapa pentingnya sebuah hubungan bilateral yang kuat di antara kami dan Indonesia," kata Rudd dalam sebuah konferensi pers kemarin di Melbourne. Rudd mengaku akan menunggu kesempatan, di tahun yang baru, untuk mengunjungi Indonesia guna memperluas kerja sama kedua negara.

Dino Patti Djalal, juru bicara Presiden Yudhoyono, membenarkan bahwa Yudhoyono merupakan presiden pertama yang menyampaikan ucapan selamat seusai Rudd menyampaikan pidato kemenangannya (Koran Tempo edisi Minggu, 26 November)

Rudd meraih 70 persen suara dari 13,5 juta rakyat Australia yang memberikan suaranya. Program kerja Rudd diprioritaskan pada penandatanganan Protokol Kyoto, menarik 550 tentara Australia dari Irak, dan memperbaiki kesejahteraan buruh.

Kemenangan Rudd itu kini membuat Amerika Serikat bertanya-tanya soal ke mana "angin politik" Rudd akan bertiup. "Amerika dan Australia merupakan dua sekutu kuat yang sudah lama menjalin kerja sama," kata juru bicara Gedung Putih, Emily Lawrimore.

"Presiden (Bush) menunggu untuk melanjutkan kerja sama bersejarah dengan pemerintahan baru ini."

AFP | BBC | KURNIASIH BUDI | ANDREE PRIYANTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan