|
Kehadiran Pasukan Amerika di Irak Bakal Diperpanjang
Rabu, 28 November 2007 | 00:34 WIB
TEMPO Interaktif, Washington: Presiden Amerika Serikat George W. Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri Al-Maliki, Senin waktu Washington (kemarin WIB) berjanji sepakat tahun depan soal kehadiran militer Amerika tak terbatas di negeri yang dibekap perang tersebut.
Dalam satu videokonferensi tertutup, kedua pemimpin meneken pernyataan yang tak mengikat atas prinsip untuk negoisasi, menetapkan 31 Juli 2008 sebagai tanggal target untuk meresmikan hubungan ekonomi, politik dan keamanan.
Maliki mengumumkan di Bagdad bahwa kesepakatan tahun 2008 sebagai tahun final buat pasukan yang dipimpin Amerika Serikat beroperasi di Irak berdasarkan mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bakal diganti kesepakatan bilateral. Mandat satu tahun PBB berakhir 31 Desember nanti.
Dalam dokumen yang diteken dan dipublikasikan Senin lalu, pakta keamanan baru bakal memicu pengakhiran sanksi-sanksi PBB yang dilansir setelah invasi Irak ke Kuwait pada tahun 1990 dan mengembalikan kedaulatan penuh pemerintah di Bagdad.
"Semua justifikasi yang dibuat bekas rezim kini berakhir," kata Maliki, merujuk ke Saddam Hussein, diktator yang dijungkalkan koalisi pada Maret 2003 yang kemudian dihukum gantung.
Di pihak Gedung Putih, "kaisar perang" Amerika, Letnan Jendral Douglas Lute menyebut perundingan tahun depan bakal membahas apakah Washington harus punya pangkalan permanen, jumlah tentara Amerika yang ditempatkan dan jangka waktunya.
Pemimpin Kongresional Partai Demokrat Nancy Pelosi kemarin dinihari menyalahkan Bush atas rencana meninggalkan pasukan Amerika di Irak setelah periodenya berakhir Januari 2009.
"Kesepakatan itu menunjukkan ketidakbijaksanaannya lengser dengan pasukan Amerika ada di Irak tanpa strategi keluar yang jelas," demikian Pelosi, Ketua DPR.
AFP/BBC/dwi arjanto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|