Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
 
   

Musharraf Tak Lagi Panglima
Rabu, 28 November 2007 | 21:50 WIB

TEMPO Interaktif, Rawalpindi:Korps Drumbanband Angkatan Bersenjata Pakistan Rabu (28/11) pagi membawakan Auld Lang Syne dengan tempo cepat. Dengan sigap, barisan perwira dengan medali nan mengkilap tersemat di dada bersikap tegak memberi hormat.

"Saya beruntung telah memimpin angkatan bersenjata yang terbaik di dunia. Militer ini adalah penyelamat Pakistan," kata Jenderal Pervez Musharraf, yang baru saja diberi hormat oleh pasukan. "Tanpa angkatan bersenjata, negara Pakistan tak akan bisa berdiri."

Bagi jenderal berusia 64 tahun itu, Rabu (28/11)pagi merupakan hari yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Sebab, pada hari itulah dia mesti melepaskan seragam militer yang telah dikenakannya selama 46 tahun.

"Saya ucapkan selamat tinggal kepada dinas militer," ujarnya. "Mulai besok (hari ini) saya tak lagi berseragam." Suatu ketika Musharraf pernah mengatakan bahwa seragam militer ibarat "kulit keduanya".

Tongkat komando yang digenggamnya selama delapan tahun memimpin dinas militer pun berpindah tangan. Tongkat itu kini milik Jenderal Ashfaq Pervez Kiani, bekas kepala dinas intelijen, yang ditunjuk Musharraf sebagai penggantinya Oktober lalu.

Mundurnya Musharraf dari dinas militer bukan tanpa sebab. Sejak terpilih kembali menjadi Presiden Pakistan lewat pemilihan umum bulan lalu, Amerika Serikat, sekutunya di Asia Selatan, dan juga dunia internasional mendesak dia untuk melepas seragamnya.

"Mengembalikan konstitusi, melepaskan para tahanan politik, dan mengakhiri pemberangusan terhadap media massa," sebagaimana dikatakan Bush dan sejumlah pemimpin Barat lainnya. Saluran televisi lokal melaporkan kemungkinan dicabutnya status kondisi gawat sebelum pemilu pada 8 Januari 2008.

Adapun dua mantan perdana menteri, yakni Nawaz Sharif dan Benazir Bhutto, menyatakan akan memboikot pemilu parlemen. Menurut mereka, pemilu dalam status darurat akan berlangsung tidak adil.

l AP | AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Australia Segera Ratifikasi Protokol Kyoto
Rudd Bawa Angin Perubahan
Pakistan Menanti Musharraf Lepas Seragam
Parlemen Pakistan Dibubarkan Kamis Tengah Malam
Bhutto Dikenai Tahanan Rumah Sepekan
Tersangka Bom Afganistan Ditangkap
Bhutto Dikenakan Tahanan Rumah
Aparat Pakistan Tangkapi Aktivis
Helikopter Amerika Jatuh, 5 Tewas
Bhutto Desak Musharraf Mundur
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk112527 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< November,2007>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data