|
Kontroversi Keinginan Presiden Putin Jadi Perdana Menteri
Rabu, 19 Desember 2007 | 01:41 WIB
TEMPO Interaktif, Moskow: rar Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi perdana menteri jika anak asuhnya Dmitry Medvedev terpilih presiden tahun depan memicu kontroversi. Sejumlah surat kabar Rusia kemarin mempertanyakan bentuk struktur kekuasaan yang baru.
Banyak harian mempertanyakan bagaimana seorang presiden yang kuat seperti Putin bisa, setelah delapan tahun berkuasa, berada di pos perdana menteri yang secara tradisional lemah tanpa risiko menciptakan dua pusat kekuasaan.
"Model itu yang dirancang Putin tidak bisa tampak stabil. Itu eksperimen berbahaya," kata pengamat politik Alexander Tsipko di Komsomolskaya Pravda, harian terbesar di Rusia kemarin.
Harian Moskovsky Komsomolets menyebut bakal ada "dua tsar" di Rusia untuk pertama kalinya sejak abad ke 17, ketika Ivan Romanov dan adiknya Peter Romanov mengumumkan sebagai tsar ditengah persaingan politik.
Dua bersaudara itu secara resmi diangkat antara 1682 dan 1696, saat Ivan meninggal. Peter lalu dikenal sebagai Peter the Great, tsar reformis yang mendirikan kota Saint Petersburg.
"Putin dan Medvedev tampak menyembunyikan sesuatu," tulis Moskovsky Komsomolets.
Presiden Vladimir Putin Senin lalu memperjelas dia tak mundur dari politik. Dia menerima pos perdana menteri jika figur dekatnya Dmitry Medvedev menjadi presiden Rusia pada Maret 2008.
Berbicara dalam kongres partai Rusia Bersatu di Moskow, Putin menyanjung Medvedev sebagai pejabat lurus dan seorang administrator ulung.
"Jika rakyat Rusia meyakini Dmitry Medvedev dan memilihnya sebagai presiden baru, saya siap melanjutkan kerja sama sebagai perdana menteri, tanpa pengubahan distribusi otoritas," kata Putin. AFP/The Guardian/dwi arjanto
INDEKS BERITA LAINNYA :
|