|
Bhutto Diduga Tewas Ditembak
Kamis, 27 Desember 2007 | 22:48 WIB
TEMPO Interaktif, Rawalpindi:Ketua Umum Partai Rakyat Pakistan (PPP) Benazir Bhutto diduga tewas akibat ditembak pelaku bom bunuh diri sebagaimana dilansir Kantor berita AFP Kamis (27/12). Namun kemungkinan itu segera ditepis Kementrian Dalam Negeri Pakistan.
"Bisa jadi dia (Bhutto) terkena serpihan mimis bom yang tertempel di jaket pelaku," kata Juru Bicara Kementrian Dalam Negeri Javed Iqbal Cheema kepada AFP. Bhutto, 54 tahun, terbunuh selang dua bulan sekembalinya dia dari pengasingan di Dubai, Uni Emirat Arab.
Menurut polisi pelaku serangan bom bunuh diri itu beraksi di salah satu pintu keluar sebuah taman tempat Bhutto berkampanye untuk pemilihan parlemen di kota Rawalpindi. Bom menyalak tatkala orang-orang mulai meninggalkan tempat kampanye tersebut.
Ledakan itu menewaskan sekitar 20 orang termasuk Bhutto yang semula dikabarkan terluka parah dan dilarikan ke sebuah rumah sakit di Rawalpindi. Sejumlah pejabat menyatakan Presiden Pervez Musharraf telah mengetahui kabar kematian Bhutto.
Lewat pidato di televisi Musharraf menghimbau agar warganya tetap tenang. "Sehingga rencana-rencana para teroris itu bisa digagalkan," tutur Musharraf yang segera menggelar rapat darurat terbatas menyusul kabar tewasnya Bhutto.
Bhutto merupakan perempuan pertama yang memimpin sebuah negara Muslim di masa pasca-kolonial. Bhutto yang karismatis terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada 1988, ketika usianya belum genap 35 tahun.
Namun 20 bulan kemudian ia digulingkan Presiden Ghulam Ishaq Khan yang didukung militer. Alumnus jurusan ilmu politik Universitas Harvard dan magister filasafat, ekonomi, dan politik Universitas Oxford itu terpilih kembali menjadi perdana menteri pada 1993.
Namun tiga tahun kemudian diberhentikan di tengah-tengah berbagai skandal korupsi. Bhutto, yang sejak 1999 tinggal di Dubai, akhirnya lebih banyak mengasuh anak-anaknya dan ibunya, yang menderita penyakit Alzheimer.
Pada 2005 Bhutto bersumpah untuk kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri lagi sebagai perdana menteri dalam pemilu November 2007. Pada 18 Oktober 2007 ia mudik ke Pakistan untuk bersiap menghadapi pemilu.
Namun, dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan, dua buah bom meledak dekat rombongan yang membawanya. Bhutto selamat, namun sedikitnya 139 orang tewas. Itulah serangan paling mematikan dalam sejarah Pakistan.
Tapi dalam serangan kali ini, takdir berkata lain.
| AP | AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO
INDEKS BERITA LAINNYA :
|